메인메뉴 바로가기본문으로 바로가기

Features

Culture

Korea Utara di Mata Wanita Muda Inggris

Tales of Two Koreas 2021 AUTUMN 36

Korea Utara di Mata Wanita Muda Inggris Korea Utara di Mata Wanita Muda Inggris Pyongyang, Korea Utara selama 2 tahun dengan suaminya, seorang diplomat. Walaupun waktu berlalu, dia masih ingat ramahnya persahabatan dan kehidupan sehari-hari warga Korea Utara di balik sistem solialis. Korea utara yang dialami seorang wanita Inggris berusia 30-an lebih ramah dan manis daripada yang diperkirakan. Kehidupan di Pyongyang selama 2 tahun tidaklah singkat untuk mengubah nilai-nilai secara signifikan. Lindsey Miller semula tidak berencana untuk menulis tentang Korea Utara, tetapi setelah membolak-balik foto-fotonya, dia merasa terdorong untuk berbagi pengalaman dan interpretasi visualnya. “Korea Utara: Tak Seperti Tempat Lain,” kompilasi dari 200 foto dan 16 esai, diterbitkan di London pada Mei 2021. ⓒ Lindsey Miller Pada bulan Mei, Lindsey Miller, seorang komposer dan direktur musik menerbitkan sebuah buku foto esei tentang orang-orang yang ditemuinya selama tinggal di Korea Utara dengan suaminya, seorang diplomat sejak 2017 hingga 2019. Judul buku setebal 200 halaman ini pun luar biasa. Sebelum tiba di Korea Utara, dia memperkirakan orang-orang di sana seperti robot yang tidak ada emosi. Khususnya dia menduga mereka lebih dingin dan memusuhi orang asing. Namun, setelah mengalami kehidupan di Pyongyang selama 2 tahun, dia mengatakan pikiran itu hanya prasangka. Warga-warga Korea Utara yang ditemuinya ramah dan hangat. “Orang asing sering memiliki prasangka tentang Korea Utara; parade militer, senam kelompok, rudal, dan lainlain. Oleh karena itu, mereka menduga bahwa warga Korea itu sangat kaku dan keras. Akan tetapi sesungguhnya masyarakat Korea juga orang biasa seperti kita.Kakek dan nenek menyayangi cucu dan anggota keluarga saling mencintai.” Tatapan mata tentara muda dalam kamera Miller meruapakan salah satu foto favoritnya.Sebagian mereka melambai dan memberikan ciuman ke arahnya, menghancurkan citra wajah dingin mereka di Barat. ⓒ Lindsey Miller Sebelum menjadi tentara, mereka adalah pemuda biasa yang berusia menjelang 20-an. Dia ingat dengan jelas saat mengambil foto ini. Mereka bersalaman dan salah seorang tentara mengirim ciuman udara ke Miller. Perubahan yang Pasti Miller menemukan perubahan kecil di masyarakat Korea Utara yang memiliki keseragaman suasana. Pada suatu sore, dia melihat sepasang kekasih berjalan sambil bergandengan tangan di depan gedung surat kabar Rodong yang melambangkan sanksi dan kontrol. Dia mengambil foto mereka untuk membuat buku. Selain itu dia sering menemukan pemuda-pemudi yang tidak bisa dibayangkannya sebelumnya. Siswa-siswa kelas rendah membawa tas yang ada karakter Disney. “Bukankah saya bisa membayangkan bahwa tas karakter Disney merupakan simbol kebudayaan Amerika Serikat di Korea Utara? Saya bisa menonton animasi Disney di TV Nasional Korea Utara.Saya sangat terharu. Saya ingin tahu apakah warga Korea Utara tahu hal-hal tersebut datang dari mana?” Miller paling suka foto tentang tentara Korea Utara yang berada di dalam truk di antara ribuan lembar foto yang diambilnya. Foto ini menjelaskan pandangannya terhadap Korea Utara dan orang-orang di sana. Banyak orang berpikir tentang rezim Kim Jung-un berdasarkan tentara Korea Utara, tetapi Miller menganggap mereka pemuda biasa berusia menjelang 20-an sebelum menjadi tentara. Dia teringat jelas saat mengambil foto ini. Mereka bersalaman dan salah seorang tentara mengirim ciuman udara ke Miller. Semuanya pun ketawa. Miller juga membalas ciumannya. “Kita tidak berpikir bahwa ada kehidupan sehari-hari seperti itu di Korea Utara. Kita terlalu berkonsentrasi pada seragam tentara sehingga kadang-kadang lupa melihat siapa orangnya. Selama tinggal di Korea Utara, saya mulai memikirkan siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan bagaimana kehidupan mereka dan keluarga.” Interaksi dengan Warga Orang asi ng bisa mengel i l i ngi kota Pyongyang secara bebas. Mereka bisa berbelanja, makan di restoran dan relatif mudah berbicara dengan warga-warga setempat. Sungguh mengejutkan ternyata banyak warga Korea Utara bisa berbahasa Inggris. Beberapa orang lebih dahulu mendekatinya untuk berbicara bahasa Inggris. Akan tetapi berbeda dengan wisatawan, ada juga aturan dan larangan yang harus dipatuhi orang asing. Orang asing tidak bisa menggunakan transportasi umum sejenis bus dan taksi serta ti- dak boleh mengunjungi rumah warga Korea Utara. Orang asing tidak bisa selalu berbicara dengan warga Korea Utara secara bebas. Miller sering diawasi. Ketika mengobrol dengan orang-orang di jalan, mereka mengubah ekspresi wajah dalam sekejap mata dan tiba-tiba pergi. Melihat sekeliling, pasti ada seorang pria yang berjas. Toko-toko di pusat belanja Pyongyang juga tidak menyambut orang asing. Ketika Miller masuk ke toko, karyawan mengatakan “Sudah tutup.” meskipun ada beberapa tamu lain. Miller paling tertarik pada wanita muda di Pyongyang, khususnya wanita yang berumur sama dengannya. Dia kaget mengetahui pikiran mereka tentang percintaan, pernikahan, dan karier berubah. “Wanita-wanita Pyongyang yang saya temui lebih menghargai karier dan pekerjaan daripada pernikahan dan persalinan. Mereka sangat ingin tahu mengapa saya tidak beranak walaupun sudah menikah. Ada juga wanita yang mengatakan dia terlalu lelah karena berkerja berjam-jam. Ada siswa yang tidak mau menikah. Tentu mereka kelas elit Pyongyang. Sebagian besar orang yang saya temui di Korea Utara berasal dari kelas atas yang memiliki kekuatan politik dan sering bertemu dengan orang asing.” Dia tinggal di Munsu-dong, Pyongyang Timur, kompleks diplomatik. Daerah ini tempat kedutaan besar, organisasi internasional, kelompok bantuan internasional. Dia tidak ada masalah tinggal di sana walaupun daerah itu tidak besar dan kadang-kadang listrik tidak lancar. Dia bisa menonton TV satelit dan menggunakan internet meskipun sangat lambat. Di kompleks diplomatik ada sekolah internasional tetapi levelnya tidak tinggi sehingga sebagian besar anak diplomat mengikuti sekolah di rumah. Sebelum berangkat ke Korea Utara, Miller disarankan membawa dolar, euro, dan renminbi yang sering digunakan. Namun, di luar dugaan, dolar yang lecek tidak diterima. Setiba di Korea Utara, dia bayar 1 dolar di kasir parkir airport tetapi ditolak karena uang itu kotor dan lecek. Di Pyongyang uang kembalian sudah biasa berupa makanan ringan seperti permen karet dan jus. Di toserba pengembalian uang receh berupa Won Korea Utara. Orang asing tidak boleh menggunakan Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Jika uang asing habis, dia meminta uang kepada kenalan yang pergi ke luar negeri. Banyak orang asing mengambil uang tunai di ATM di Dandong, kota di perbatasan Korea Utara dan Tiongkok. Potret besar Kim Jong-il menjulang di atas stasiun kereta bawah tanah di Pyongyang. Gambar mendiang pemimpin ada di mana-mana di ibu kota Korea Utara. ⓒ Lindsey Miller Orang tua Korea Utara tanpa tergesa-gesa terlihat di depan gedung apartemen yang sudah usang. Miller selalu ingin tahu tentang apa yang telah dilihat dan dilakukan oleh generasi tua Korea Utara, dan apa yang akan dialami oleh penerus mereka. ⓒ Lindsey Miller Tentara berbaris berhenti untuk memberikan lambaian penuh persahabataan menghiasi sampul buku Miller, yang memprovokasi pembaca tentang Korea Utara dengan gambaran yang lebih mudah dipahami ⓒ Lindsey Miller Kesan yang Sederhana tetapi Kuat KTT Korea Utara dan Amerika Serikat 2018 memberikan kesan yang sederhana tapi kuat kepada Miller. Dia telah mendengar berita itu melalui berita asing tetapi penyiar Korea Utara mengumumkan berita KTT sehari sesudahnya. Kenalan Korea Utara datang dan bertanya apa yang terjadi kepada Miller. Foto-foto besar Kim Jong-un dan Trump yang berjabat tangan dengan slogan “Kita Satu” terpasang di kota Pyongyang. Ada banyak desas-desus bahwa warga Korea Utara mendengar musik pop Korea Selatan atau menonton program TV Korea Selatan, tetapi Miller sendiri belum pernah menyaksikan hal itu. Menonton konten Korea Selatan di Korea Utara menjadi kejahatan yang bisa dihukum maksimal. Warga Korea Utara ingin tahu apakah Miller pernah pergi ke Seoul dan bagaimana kesannya. Salah seorang warga Korea Utara mengamati selembar foto pantai Bali karena mengagumi pemandangan yang indah. Ada banyak pertanyaan tentang kebudayaan Inggris. Namun mereka kelihatannya masih bingung dengan masalah kesetaraan gender dan pernikahan sesama jenis. Banyak gedung muncul di foto Korea Utara pada era awal karya seorang migran Miller karena tampilan dan desain arsitektur sangat unik. Kemudian dia lebih berfokus kepada orang dengan mengambil foto kehidupan sehari-hari warga Korea Utara secara kreatif. Ka- dang-kadang ada saat yang memang dilarang diambil dan Miller tidak menekan tombol klik untuk menghormatinya. Awalnya, dia tidak ada rencana menerbitkan buku. Namun ketika dia kembali ke Inggris dan menyusun foto-foto, dia teringat kenangan di Korea Utara. Dia ingin membagi pengalaman dan perasaan pribadi kepada banyak orang. Buku itu terdiri dari 200 helai foto dan 16 cerita. Buku ini lebih berfokus pada orang daripada keadaan politik atau rezim Korea Utara. < North Korea, Like Nowhere Else>, judul ini mengandung banyak implikasi. “Sangat sulit untuk menjawab secara singkat jika ditanya seperti apa Korea Utara. Tidak ada tempat seperti Korea Utara di antara semua tempat yang saya tahu dan alami. Ada hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh orang asing walaupun dia seorang diplomat. Karena itulah saya memberi judul seperti itu.” Miller pertama kali mengunjungi Korea Selatan setelah kembali ke Inggris. Dia sangat terharu karena pernah tinggal di Korea Utara. Bahkan dia merasa sangat tersentuh di DMZ. “Walaupun perbatasan ditutup, kita tidak boleh menutup hati terhadap Korea Utara, karena banyak orang tinggal di Korea Utara juga.” ujarnya di akhir wawancara. Kim Hak-soonJurnalis, Profesor Tamu Jurusan Media dan Komunikasi Universitas Korea

Musik Klasik Mendunia Karena Ketahanan Mental Musisi

Focus 2021 AUTUMN 41

Musik Klasik Mendunia Karena Ketahanan Mental Musisi Musik Klasik Mendunia Karena Ketahanan Mental Musisi Belakangan ini, kabar mengenai musisi-musisi Korea yang mendapatkan penghargaan di kompetisi musik internasional terus terdengar.Menurut hasil analisis, mereka bisa melejit di panggung dunia karena telah mulai bermusik sejak muda dan berproses dalam sistem pelatihan yang sistematis. Selain itu, mereka juga didukung oleh lingkungan yang dapat memupuk bakat musik mereka. Kim Su-yeon memenangkan hadiah pertama dalam alat music piano di Kompetisi Musik Internasional Montreal tahun ini, yang pertama untuk seorang pianis Korea. © Denise Tamara, Courtesy of Kumho Cultural Foundation Pandemi COVID-19 yang menyerang seluruh dunia sejak 2020 juga telah membekukan dunia musik klasik. International Franz Liszt Piano Competition yang diadakan setiap tiga tahun rencananya akan diadakan tahun lalu di Utrecht, Belanda. Namun, acara ini kemudian diundur hingga akhirnya terpaksa dibatalkan. Hal serupa terjadi dengan International Frederick Chopin Piano Competiti- on yang diadakan setiap lima tahun di ibu kota Polandia, Warsawa. Acara ini awalnya dijadwalkan diselenggarakan di tahun lalu, tetapi akhirnya diundur ke musim gugur tahun ini. Keadaan tahun ini memang sudah sedikit membaik, sehingga berbagai macam kompetisi pun mulai diselenggarakan. Inilah yang membuat kabar mengenai para musisi Korea yang menorehkan prestasi terus terdengar. Pianis, Kim Su-yeon Montreal International Musical Competition merupakan kompetisi untuk menemukan dan memberi dukungan terhadap musisi-musisi muda berbakat di bawah 33 tahun. Kompetisi tahunan ini memperlombakan tiga kategori, yaitu vokal, biola, dan piano. Selama ini, musisi Korea telah beberapa kali menorehkan prestasi di kategori vokal dan biola, tetapi baru kali peringkat satu di kategori piano berhasil dicapai oleh Kim Su-yeon Akhir tahun lalu, Kim Su-yeon mendapat kabar bahwa kompetisi yang ditunda ke tahun 2021 akhirnya diselenggarakan secara daring. Dua puluh tujuh musisi yang terpilih diwajibkan merekam video pertunjukan di kota mereka masing-masing dan kemudian harus melakukan syuting tambahan untuk babak final setelah hasil diumumkan. Walau cukup khawatir dengan metode pelaksanaan kompetisi yang masih asing, Kim Su-yeon terus berlatih dengan serius. Syuting pertama dilakukan di awal April di Wina yang tidak terlalu jauh dari kota tempat tinggalnya, Salzburg. Kemudian, peserta yang lolos diumumkan di akhir April dan pertunjukan untuk babak final direkam di Brussel satu minggu kemudian. Saat itu, Kim Su-yeon memainkan karya Beethoven, karya Skriabin, dan karya Ravel, serta lagu yang diwajibkan di kompetisi berjudul karya komponis Kanada bernama John Burgee. Kim Su-yeon juga merupakan satu-satunya orang Korea yang lolos ke babak penyisihan Queen Elizabeth International Music Competition di Brussel yang diselenggarakan dalam periode bersamaan. Dia harus mempersiapkan diri untuk dua kompetisi sekaligus dan bah- kan harus merekam video penampilannya. “Aku memang tidak setegang ketika berada di depan penonton, tetapi bermain piano di depan kamera dan alat perekam untuk pertunjukan daring tetap saja terasa berat,” ujarnya. Dia merasa seakan harus bermain musik dengan penuh perasaan sambil menganggap dinding hampa di depannya sebagai penonton. Kim Su-yeon dinilai sebagai musisi yang memiliki “teknik sangat berkelas dengan artikulasi dan nilai yang luar biasa detail (a remarkably sophisticated technique with incredibly detailed articulation and miniature values)” di dalam kompetisi ini. Dia mempelajari repertoar yang luas di Korea National Institute for the Gifted in Arts untuk terus memupuk daya imajinasinya, kemudian mendapatkan gelar sarjana dan master dari Universitas Mozarteum di Salzburg. Hingga kini, dia masih melanjutkan pendidikan untuk menjadi pemain musik terbaik. Kontes Montreal diadakan secara virtual melalui rekaman video akibat pandemi COVID-19. Repertoar terakhir Kim termasuk karya Beethoven, Scriabin, Ravel dan komposer Kanada John Burge. ⓒ Ini adalah tangkapan layar cuplikan YouTube dari kompetisi. Pemain Selo, Han Jae-min dan Pianis, Park Yeon-min George Enescu International Competition awalnya diselenggarakan di Bukares, Rumania tahun 1958 untuk mengenang komponis sekaligus pemain biola kelahiran Rumania bernama George Enescu. Saat awal dilaksanakan, kompetisi ini hanya ditujukan untuk kategori biola dan piano. Setelah itu, kategori vokal dan komposisi lagu juga ditambahkan ke dalam kompetisi yang digelar setiap tiga tahun sekali hingga tahun 1971 ini. Pada tahun 2009, kategori selo ditambahkan dan penyelenggaraannya juga diubah menjadi setiap dua tahun sekali dengan memperlombakan total empat macam bidang. Kompetisi ini merupakan bagian dari Festival George Enescu yang merupakan festival dengan skala terbesar di Eropa Timur. Pada bulan Maret yang lalu, semua dikejutkan oleh penampilan pemain selo bernama Han Jae-min yang memainkan karya Shostakovich dalam Hankyung Philharmonic Orchestra. Sebab, walau masih berusia 14 tahun, pemuda ini mampu menafsirkan lagu tanpa henti dengan teknik matang yang luar biasa. Dua bulan kemudian, semua orang semakin terkejut saat mendengar kabar bahwa pemuda itu berhasil meraih kemenangan di George Enescu International Competition. Han Jae-min mencatat rekor sebagai pemenang dengan usia termuda dalam sejarah di seluruh kategori. Walau sebelumnya telah meraih juara satu dalam David Popper IX International Cello Competition dan International Dotzauer Competition for Young Cellists, baru kali ini dia maju dalam kompetisi untuk peserta usia dewasa. “Aku ingin membuktikan kemampuanku secara objektif, serta menambah pengalaman,” jelasnya. Berbeda dengan peserta lain yang didampingi oleh pianis mereka masing-masing, Han Jae-min merupakan satu-satunya peserta yang melakukan pertunjukan bersama dengan pianis Rumania yang ditunjuk oleh pihak penyelenggara. Menurutnya, hal ini sangat membantunya untuk menghayati perasaan khas Rumania saat memainkan di babak semifinal. “Ke depannya, aku ingin mengikuti sebanyak mungkin kompetisi yang memungkinkan usiaku untuk mengikutinya,” tambahnya yang belakangan ini suka mendengarkan Istvan Vardai dan Jian Wang. Lahir di keluarga musisi, Han Jae-min telah mulai bermain piano dan biola sejak berusia lima tahun hingga akhirnya mengubah fokus ke selo karena merasa lebih tertarik pada alat musik besar itu dibandingkan dengan biola. Setelah menyelesaikan tahun kedua di SMP, dia langsung masuk ke Korea National University of Arts sebagai mahasiswa termuda. Sosok lainnya adalah Park Yeon-min, yakni juara satu untuk kategori piano dalam kompetisi ini. Saat ini, Park Yeonmin terus melanjutkan pendidikan untuk menjadi pemain musik terbaik setelah menamatkan kuliah di Fakultas Musik Universitas Seoul dan mendapat gelar master di Hochschule für Musik, Theater und Medien Hannover. Dia adalah salah satu dari empat belas semifinalis International Franz Liszt Piano Competition yang rencananya diselenggarakan tahun lalu. Namun, kompetisi ini harus dibatalkan akibat pandemi COVID-19. Kemudian, dia menetapkan tekad untuk mengikuti kompetisi ini dengan memilih karya Rachmaninov yang terke- nal sulit. Akhirnya, Park Yeon-min menikmati kemenangan berkat pertunjukkan yang penuh kekuatan dan semangat luar biasa. Pianis Lee Dong-ha tampil di Kompetisi Musik Internasional Musim Semi Praha 2021, kontes internasional pertamanya.Dia mengatakan bahwa yang lebih berarti daripada memenangkan juara pertama adalah umpan balik dan saran yang dia terima dari para juri yang terhormat. © Andrei Gindac, Kompetisi Internasional George Enescu Pianis Park Yeon-min memenangkan hadiah pertama untuk penampilannya dalam Konser Piano Rachmaninoff No. 3 di D minor, Op. 30 pada Kompetisi Internasional George Enescu 2020, yang diadakan di Bucharest, Rumania.Park memulai debutnya di Konser Artis Muda Kumho pada tahun 2014. © Andrei Gindac, Kompetisi Internasional George Enescu PIanis Lee Dong-ha dan Arete String Quartet Prague Spring International Music Competition diprakarsai pada 1946 oleh dirigen musik bernama Rafael Kubelik dan para anggota Czech Philharmonic Orchestra. Kompetisi ini memperlombakan dua kategori yang dilakukan secara bergiliran setiap tahunnya dengan target peserta musisi-musisi muda berusia di bawah 30 tahun. Tahun ini, kompetisi diselenggarakan untuk memperlombakan kategori piano dan kuartet gesek yang masing-masing dimenangkan oleh Lee Dong-ha dan Arete String Quartet. Setelah lulus dari Universitas Yonsei, Lee Dong-ha melanjutkan program pascasarjana di Hochschule für Musik, Theater und Medien Hannover sekaligus Münster School of Music untuk mendapatkan gelar ganda. Baru sekali mengikuti kompetisi internasional, dia sengaja memilih lagu-lagu kesukaannya untuk kompetisi kali ini. Namun, ini justru membuatnya harus semakin mendalam untuk menafsirkan lagu-lagu tersebut dengan gayanya sendiri, terlebih karena lagu-lagu tersebut sering dimainkan oleh pemain musik lain. Dalam wawancara dengan sebuah media di bulan Mei lalu, dia berkata telah mengalami berbagai kesulitan akibat jadwal kompetisi yang dimajukan satu bulan lebih awal. Oleh karena itu, dia sangat terharu dapat menerima penilaian objektif yang saksama dari dewan juri atas permainan musiknya. Arete String Quarter dibentuk pada bulan September 2019 yang terdiri atas pemain biola Jeon Chae-ann dan Kim Dong-hwi, pemain viola Jang Yoon-sun, serta pemain selo Park Seong-hyeon. Rekaman pertunjukan langsung debut mereka di Konser Pemuda Kumho diputar di KBS Radio Classic walau mereka masih pendatang baru. Kini, mereka tengah menjadi pusat perhatian sebagai generasi baru kuartet gesek penerus NOVUS Quarter dan Esme Quartet. Selain meraih juara utama di kategori kuartet gesek yang sudah berjalan selama 16 ta- hun, tim ini juga berhasil mendapatkan lima penghargaan istimewa lainnya dalam kompetisi kali ini. Pianis Lee Dong-ha tampil di Kompetisi Musik Internasional Musim Semi Praha 2021, kontes internasional pertamanya.Dia mengatakan bahwa yang lebih berarti daripada memenangkan juara pertama adalah umpan balik dan saran yang dia terima dari para juri yang terhormat. © Petra Hajská, Kompetisi Musik Internasional Musim Semi Praha Kuartet Senar Arete yang baru dibentuk tahun 2019 ini juga sedang berada di jalur cepat. Grup ini memenangkan hadiah pertama di bagian kuartet gesek dari Kompetisi Musik Internasional Musim Semi Praha 2021, di samping lima hadiah khusus. © Petra Hajská, Kompetisi Musik Internasional Musim Semi Praha Misteri? Selain itu, ada pula penyanyi bariton Kim Gi-hoon yang memenangkan kompetisi BBC Cardiff Singer of the World. Kompetisi ini merupakan kompetisi vokal dengan standar tertinggi di dunia. Walau vokalis Korea pernah meraih juara satu sebelumnya, ini adalah pertama kalinya Korea mendapatkan penghargaan tertinggi dalam kompetisi ini. Seiring dengan meningkatnya musisi Korea yang berprestasi di Queen Elisabeth Competition setiap tahunnya, stasiun TV milik pemerintah Belgia bernama RTBF memproduksi sebuah program dokumenter berjudul ‘Misteri Dunia Musik Korea’ di tahun 2011 yang difokuskan pada Korea National Unversity of Arts. Banyak ahli berpendapat bahwa pelatihan sejak dini dan persaingan yang ketat merupakan alasan di balik tangguhnya musisi Korea dalam kompetisi internasional. Selain dalam bidang vo-kal, kebanyakan dari mereka sudah mulai mencari kemampuan di bidang lainnya sejak kecil, sehingga bisa dikatakan mereka telah mendapat banyak pengalaman melalui proses itu. Korea National Institute for the Gifted in Arts di Korea National Unversity of Arts merupakan salah satu contoh utama lembaga pendidikan bagi siswa berbakat. Seseorang dapat menempuh pendidikan di lembaga ini sejak menginjak tahun ketiga di sekolah dasar. Persaingan pun terbilang sengit karena setiap siswa bisa dikeluarkan walau telah lolos ujian masuk jika gagal dalam audisi yang diadakan setiap tahunnya. Pada akhirnya, para siswa yang dipilih berdasarkan potensi dibandingkan kemampuan mereka saat ini akan bisa lebih menonjol. Berarti, ketahanan mental orang Korea juga dapat dikatakan sebagai salah satu faktor penentu. Faktor lainnya adalah perubahan besar yang memungkinkan mereka untuk menampilkan bakat berkat bertambahnya jalur untuk mengikuti kompetisi internasional dibandingkan dengan masa lalu. Ryu Tae-hyungKolumnis Musik

Gyeongju: Ibu Kota Tua, Museum Terbuka

On the Road 2021 AUTUMN 33

Gyeongju: Ibu Kota Tua, Museum Terbuka Gyeongju: Ibu Kota Tua, Museum Terbuka Sebuah kota tempat situs bersejarah yang berada di antara taman-taman indah dan bangunan abad ke-21 yang trendi, Gyeongju, yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Silla (57 SM-A.D. 935), memoles reputasinya sebagai “museum tanpa tembok.” Pagoda batu tiga lantai setinggi 13,4 meter di situs Kuil Gameun di Yongdang-ri, Gyeongju, adalah pagoda tertinggi pada periode Silla Bersatu. Menghadap ke laut timur Gyeongju, pagoda-pagoda ini adalah sisa-sisa kuil kuno, yang dibangun setelah Raja Munmu dari Silla menyatukan Tiga Kerajaan pada abad ketujuh. Pagoda kembar dicatat sebagai Harta Nasional No. 112. SAAT SAYA DENGAN PENUH semangat berangkat ke Gyeongju, tempat lahir budaya Buddhis Korea, saya teringat Jack Kerouac (1922-1969), penulis ikonik Amerika dan pelopor Beat Generation yang memeluk agama Buddha. Saya sekali lagi akan meminjam nama novel bermasa depannya di tahun 1957, “On the Road.” Gyeongju adalah ibu kota Kerajaan Silla, yang diperluas dengan cara menaklukkan negara-negara saingan untuk menguasai dua pertiga semenanjung Korea antara abad ke-7 dan ke-10. Pada periode aman-tentramnya, Gyeongju adalah kota terbesar keempat di dunia, dengan perkiraan satu juta penduduk, dan kemegahannya sebanding dengan Konstantinopel (Istanbul), Changan (Xian, Cina) dan Baghdad. Memang, selain Kekaisaran Romawi dan dinasti Mesir, ada beberapa negara dalam sejarah manusia yang bertahan selama itu. Silla mengadopsi perspektif luas, membangun profil global yang jelas. Elit penguasanya secara aktif terlibat dengan Cina, yang berdagang dengan negara-negara Arab dan Eropa melalui Jalur Sutra kuno. Hal itu menjelaskan mengapa kaca Romawi ditemukan dalam penggalian beberapa makam Silla. Di Korea, yang telah terlihat sebagian besar wilayahnya berulang kali dilenyapkan oleh imperialisme dan perang, kita hanya dapat bersyukur bahwa sisa-sisa peradaban gemilang Silla tetap ada hingga hari ini di sudut tenggara Provinsi Gyeongsang Utara, sekitar 70 kilometer utara Busan. Di luar ruang depan dan koridor terdapat karya patung Buddha Korea kuno yang paling terkenal: rotunda yang melambangkan bunga teratai, patung Buddha duduk, dan berbagai Buddha, bodhisattva, dan dewa yang diukir di dinding. Untuk tujuan pelestarian, pengunjung hanya dapat menikmati panteon Buddhis yang menakjubkan dari balik dinding kaca. © Institut Penelitian Warisan Budaya Nasional, Han Seok-hong Profil Global Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya mengunjungi kota kuno ini. Jadi, seperti seorang penjelajah asing yang naik perahu, saya mendekati Gyeongju dari pantai timur melalui reruntuhan Kuil Gameun. Nama “Gameun” mencerminkan gagasan “tergerak oleh kasih karunia”, khususnya anugerah Raja Munmu (berkuasa 661-681), yang menuntaskan penyatuan Tiga Kerajaan. Dia memulai pembangunan kuil dengan harapan dapat memblokir penjajah Jepang dengan kasih sayang Sang Buddha, tetapi meninggal sebelum selesai. Dalam wasiatnya, dia meminta abunya dikuburkan di Laut Timur – dan memang, keinginannya terpenuhi – agar dia bisa kembali sebagai naga untuk melindungi negara. Saat ini, situs kuil tidak dipenuhi dengan sensasi seperti tempat bersejarah lainnya di dalam dan sekitar Gyeongju. Bahkan mungkin tampak agak diabaikan. Tidak ada biaya masuk, juga tidak ada pengawas atau manajer yang terlihat selama kunjungan saya. Reruntuhannya mencakup sedikit dari sepasang pagoda granit tiga lantai dan sisa-sisa bawah tanah dari beberapa struktur kuil, tetapi kemegahan pagodanya yang megah sangat menawan. Pada zaman dahulu, laut menjilat tepat di bawah Pura Gameun, di bawah lantai aula utama. Ada ka- nal bagi raja yang berubah menjadi naga untuk masuk dan pergi. Siapa yang tahu apakah kedua pagoda itu melindungi naga, atau justru naga yang melindungi pagoda? Peninggalan sarira yang ditemukan di dalam pagoda ketika dibongkar untuk restorasi dipenuhi dengan kehalusan seni logam Silla. Benda-benda ini, sekarang disimpan di Museum Nasional Korea di Seoul, sangat indah. Seolah-olah harta karun ini, yang pernah bersembunyi jauh di dalam pagoda agar tetap tidak terlihat, mendasari peradaban Silla yang agung. Mereka memiliki kerendahan hati yang bercahaya tetapi secara lahiriah tidak mencolok, mengajari kita bahwa kecantikan sejati tidak memerlukan kemasan – ia bersinar dengan sendirinya. Patung Buddha duduk di Gua Seokguram, di Gyeongju, dianggap sebagai mahakarya seni Buddha. Seokguram adalah kuil gua granit yang dibangun di lereng tengah Gunung Toham pada abad kedelapan, dengan gaya arsitektur Yunani dan Romawi yang diperkenalkan ke Korea melalui Jalur Sutra. © Institut Penelitian Warisan Budaya Nasional, Han Seok-hong Kemegahan Penuh Teka-Teki Ingin melihat lebih banyak keindahan misterius Silla, maka saya langsung menuju jantung Gyeongju. Di depan terdapat Gunung Toham, yang menghalangi angin laut yang bertiup ke arah kota. Empat kilometer ke arah timur, menghadap ke Laut Timur, Seokguram, sebuah gua di lereng gunung dari Kuil Bulguk. Kuil Seokguram dan Bulguk adalah pilihan yang tak terbantahkan saat menjelajahi keindahan Gyeongju. Pada tahun 1995, mereka termasuk di antara lima situs Korea pertama yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Pada tahun 2000, serangkaian tambahan lima area bersejarah di sekitar Gyeongju juga menjadi situs Warisan Dunia. Seokguram, selesai pada 774, adalah puncak seni dan arsitektur Buddhis. Mengingatkan pada Pantheon di Roma, kapel gua adalah kesaksian yang menakjubkan untuk pertukaran arsitektur daerah dan kepercayaan agama di zaman kuno. Area ini dilapisi dengan granit putih yang tidak sesuai untuk dijadikan gua dan ukiran gambar di atasnya, sehingga gua buatan dibangun dengan merakit ratusan keping granit. Ini membedakan Seokguram dari gua Buddha di India atau Cina, dan memberikan keindahan yang khas. Gua ini menampilkan sejumlah figur yang diukir dengan terampil yang mewakili pengikut Buddhis. Melewati lengkung pintu masuk, ruang depan dan koridor sempit terdapat sebuah rotunda yang menampung patung Buddha yang berdiri setinggi 3,5 meter, dengan penampilan yang realistis dan tenang. Duduk bersila dalam meditasi di atas alas berukir teratai yang ditinggikan, gambar Sakyamuni ini diakui sebagai mahakarya seni Buddhis. Di atas kepalanya ada kubah, juga dalam desain teratai; konstruksinya merupakan contoh lain dari pengaruh Yunani-Romawi. Sebagian besar gua sekarang ditutup demi perlindungan. Apa yang tersisa hanya dapat dilihat sepintas dalam antrean panjang, tetapi saya merasa cukup terpesona oleh keindahan seni pahat yang agung. Ekspresi itu sepertinya langsung merasuk ke dalam mata pikiranku. Kuil Bulguk terletak sekitar 15 kilometer tenggara Gyeongju. Dikenal sebagai “Kuil Tanah Buddha,” sejarahnya dimulai sejak tahun 528. Ini adalah kuil utama dari Ordo Jogye Buddhisme Korea, sekte Buddha terbesar di Korea, dan diklasifikasikan oleh pemerintah Korea sebagai Situs Bersejarah dan Indah No. 1. Itu juga dianggap sebagai permata utama dari puncak agama Buddha di Silla. Di halaman utama kuil, Dabotap (Pagoda Banyak Harta Karun) dan Seokgatap (Pagoda Sakyamuni) menghadap ke aula utama, Daeungjeon (Aula Pahlawan Besar). Di dalam Seokgatap ditemukan salinan Sutra Dharani Agung, yang menunjukkan kualitas pencetakan balok kayu Silla. Pagoda, terdaftar sebagai Harta Karun Nasional, dan teras batu yang membentuk fondasi halaman kuil adalah satu-satunya struktur asli yang tersisa. Sisanya telah direkonstruksi selama berabad-abad. Kuil Bulguk di kaki Gunung Toham menampilkan sepasang pagoda yang terkenal – Dabotap (Pagoda Banyak Harta Karun), terlihat di latar depan, dan Seokgatap (Pagoda Sakyamuni) – berdiri di halaman utama.Kuil dan Gua Seokguram mewakili puncak seni Buddha Silla. Pada tahun 1995, mereka termasuk di antara lima situs pertama Korea yang masuk dalam Daftar Warisan Budaya Dunia UNESCO. Daereungwon adalah kompleks seluas sekitar 125.400 meter persegi, berisi 23 tumuli, kelompok makam kuno terbesar di Gyeongju. Terletak di Hwangnam-dong, jantung kota kuno, auranya yang memesona melampaui waktu dan tempat. Apakah hidup dan mati itu harmonis atau tidak harmonis? Bagaimana seharusnya kita memahami jurang antara modernitas dan masa lalu? Adanya perbedaan di mana-mana seperti itu membuat Gyeongju cukup unik. Lonceng Ilahi Raja Seongdeok, dibuat pada abad ke-8 pada periode Silla Bersatu, adalah lonceng terbesar yang masih ada di Korea.Tingginya 3,66 meter, diameter sekitar mulut 2,27 meter, tebal 11-25 sentimeter, dan berat 18,9 ton. Tabung suara di bagian atas, unik sebagai lonceng perunggu Korea, membantu menciptakan suara resonansi yang dalam. Permukaan lonceng dihiasi dengan pola-pola indah, termasuk bidadari terbang. Museum Sastra Dong-ni Mok-wol mengenang dua penduduk asli Gyeongju yang terkenal, novelis Kim Dong-ni (1913-1995) dan penyair Park Mokwol (1916-1978), yang meninggalkan jejak tak terhapuskan pada sejarah sastra modern Korea.Museum ini menawarkan tur ke tempat kelahiran mereka dan situs yang menjadi latar belakang karya mereka. Rekreasi ruang kerja novelis Kim Dong-ni.Museum ini menyediakan galeri terpisah untuk Kim dan Park, tempat gambar dan barang pribadi mereka masing-masing dipamerkan. Salah satu manuskrip Kim ditampilkan dalam rekreasi ruang kerjanya. Buku, Makam, dan Lonceng Setelah meninggalkan kuil yang diliputi oleh derajat dan kedalaman waktu dan ruang yang tercermin dalam peninggalan kuno, saya tiba di Museum Sastra Dong-ni Mok-wol, yang menghormati novelis Kim Dong-ni (1913-1995) dan penyair Park Mok-wol (1916-1978). Keduanya adalah penduduk asli Gyeongju dan mewariskan karya-karya indah. Di museum, saya mengingat prasasti di Lonceng Ilahi Raja Seongdeok, lonceng kuil besar yang dibuat pada tahun 771 selama periode Silla Bersatu, yang mengandung baris ini: “Orang-orang pada masa itu meremehkan kekayaan dan menghargai bakat sastra.” Saya mendengar sebuah puisi dibacakan di galeri yang didedikasikan untuk Park Mok-wol. Lirik penyair mengungkapkan wawasan yang terkonsentrasi ke dalam kehidupan dan alam, menggemakan penyair Inggris William Wordsworth. Dengan cara ini, artefak budaya bukan satu-satunya harta karun Gyeongju. Selain museum, pengunjung dapat mengikuti tur yang mencakup tempat kelahiran penulis dan lokasi yang menginformasikan latar belakang karya mereka. Meninggalkan museum sastra, saya menuju ke Cheonmachong, atau Makam Kuda Surgawi, di taman tumuli Daereungwon. Jari kakiku tiba-tiba terasa dingin. Saya begitu asyik dengan pemandangan indah sehingga saya tidak menyadari bahwa kaki saya basah karena hujan yang turun sepanjang hari. Tergelar 23 makam gundukan yang menyerupai bukit kecil berumput di taman ini. Di dalam dan sekitar Gyeongju terdapat beberapa ratus tumuli, 35 di antaranya dianggap sebagai makam raja-raja Silla. Saya telah membayangkan bagian dalam ruang nakam kerajaan akan tampak suram, menakutkan dan misterius, tetapi itu indah. Ketika saya memikirkan tenaga kerja yang telah dikerahkan untuk membangun makam dan perawatan yang dilakukan untuk melaksanakan upacara pemakaman dengan semua ornamen hiasan, saya kagum pada ketekunan orang-orang kuno ini. Tujuan saya selanjutnya adalah area pusat kota Hwangnam-dong. Kesenjangan antara tumuli kuno dan lajur perkotaan terasa sedikit membingungkan. Itu sama saja dengan mengenali kehidupan langsung dari tempat saya yang baru saja merasakan kematian. Apakah hidup dan mati itu harmonis atau tidak harmonis? Bagaimana seharusnya kita memahami jurang antara modernitas dan masa lalu? Adanya perbedaan di mana-mana seperti itu membuat Gyeongju cukup unik. Untuk mengakhiri kunjungan singkat saya, saya menuju Lonceng Indah Raja Seongdeok, yang bertempat di sebuah paviliun di halaman Museum Nasional Gyeongju. Ini adalah bagian misterius yang paling ingin saya lihat. Meskipun setengah terkikis, garis indah pada prasasti di lonceng itu, yang mengenang perkataan seorang raja besar bahwa orangorang pada masa pemerintahannya meremehkan kekayaan dan lebih menghormati bakat sastra, tampak diproyeksikan dengan jelas, seperti hologram. Lonceng memancarkan suara agung dengan resonansi yang dalam; Pembuat lonceng Silla tampaknya telah sepenuhnya memahami teori mekanika gelombang. Gema yang kuat bahkan mungkin bagai auman seremonial naga, kagum dengan kecemerlangannya sendiri, karena melindungi banyak situs dan artefak yang menunjukkan keindahan kota ini. Gyeongju tetap menjadi benteng regional yang penting selama dinasti-dinasti yang mengikuti Silla. Saya merasakan kemegahan dan kemuliaan kota tua, serta keindahan yang tertanam dalam sesuatu yang telah bertahan selama berabad-abad. Saya juga merasakan kebesaran hati dan pikiran mereka yang berusaha menjaga warisan budaya mereka. Park SangNovelis Ahn Hong-beom Fotografer

esunyian Studio di Luar Kampus

Image of Korea 2021 AUTUMN 38

esunyian Studio di Luar Kampus Kesunyian Studio di Luar Kampus “STUDIO, 1 KAMAR TIDUR, Apartemen Bersama, Kamar Berperabot Lengkap, Konstruksi Baru, Disewakan…” Selebaran perumahan menempel di dinding gang, pohon, tiang telepon, dan halte bus, menunggu perhatian pelajar dan non-pelajar yang berjalan-jalan di dekat banyak universitas di Seoul. Hanya saja pandangan masa bodoh yang justru mereka dapati. Karena semakin banyak perguruan tinggi melaksanakanl kelas secara daring di tengah pandemi COVID-19, populasi pelajar melorot dari lingkungan yang biasanya ramai. Pelajar Korea dan internasional pulang ke rumah. Pemilik rumah sewa meresponnya dengan memotong tarif sewa menjadi separonya, berharap menarik non-pelajar atau membujuk pelajar untuk tetap menunggu di Seoul agar kelas tatap muka dilanjutkan. Namun, hal itu masih belum cukup untuk menghentikan eksodus mereka. Di masa lalu, tinggal di tempat itu bisa mengurangi rasa sepi. Distrik universitas Seoul penuh dengan rumah kos yang mengimbangi jumlah asrama milik universitas yang sedikit. Alih-alih menyewa apartemen dan memasak serta bersih-bersih sendiri, pelajar yang jauh dari rumah dan keluarga dapat mengandalkan makanan hangat buatan rumah yang dibuat oleh “bibi” kos. Jika dia sangat baik hati, dia bahkan mungkin akan merapikan kamar dan mencuci pakaian. Pelayanan seperti itu membantu pelajar mengurangi kerinduan mereka, dan para penyewa pun sering menjadi sangat dekat satu sama lain, membentuk ikatan seperti saudara kandung. Memang, kehidupan kos-kosan mencerminkan pola pikir komunal yang mencirikan kotakota pedesaan yang oleh banyak penyewa disebut rumah. Dua tren merusak suasana lingkung- an sederhana ini. Pertama, pendaftaran universitas melonjak pada 1980-an dan tetap tinggi setelahnya. Permintaan pun dengan cepat melampaui pasokan kamar kos. Pembangunan perumahan pelajar dengan unit mandiri dan ruang bersama minimal muncul sebagai bisnis yang menguntungkan. Ini sesuai dengan tren kedua: pergeseran prioritas dan perilaku sosial. Ketika Korea menjadi lebih urban, semangat komunal yang dulu dipupuk oleh akar agrarisnya surut. Privasi dan otonomi individu menjadi lebih dihargai dan dihayati. Apartemen studio dengan luas ratarata sekitar 20 meter persegi pun mendominasi pembangunan perumahan mahasiswa. Dan tak lama kemudian, hubungan induk semang-penyewa yang hampa menggantikan kehangatan antara pemilik rumah kos dan pelajar. Kini, pembatasan terkait pandemi telah mematikan bangunan tempat tinggal dan mengosongkan trotoar yang dulunya dipenuhi pelajar. Balkon yang menghadap ke selatan dan dapur kecil yang sederhana, kamar mandi yang sedikit sempit tapi bersih, lemari dan meja bongkar-pasang, tempat tidur untuk satu orang… setelah dipenuhi oleh mimpi, rasa cemas, dan hasrat ambisi muda, studio itu sekarang berdiri kosong , dengan hanya sinar matahari yang tetap sama. Apakah bangunan itu akan memiliki penyewa baru dalam harapan baru tergantung pada sebaran vaksinasi dan arah pandemi. Universitas berharap kondisi akan memungkinkan mereka untuk secara bertahap membuka kelas tatap muka. Hal itu berarti harus memindahkan pelajar dari rumah mereka dan mengembalikan mereka ke studio di luar kampus. Tetapi, tentu saja, pandemi ini mungkin memberikan kejutan yang lebih banyak lagi, membuat selebaran perumahan itu hanya sebatas renungan. Kim Hwa-young Kritikus Sastra; Anggota Akademi Seni Nasional

Keajaiban yang Tersembunyi dalam Toran

Essential Ingredients 2021 AUTUMN 45

Keajaiban yang Tersembunyi dalam Toran Keajaiban yang Tersembunyi dalam Toran Toran (taro atau talas ungu) yang memiliki tekstur lembut seperti kentang sekaligus kenyal karena mengandung getah, merupakan bahan masakan yang dapat ditemui setiap musim gugur. Jika mengenal toran secara mendalam, kita baru dapat menyadari keajaiban yang tersembunyi di dalamnya. ➊ Talas, umumnya tumbuh di ladang, memiliki daun besar yang menempel di ujung batang yang tebal. Mereka adalah bahan serbaguna, tidak ada bagian yang terbuang. Daun talas yang dikeringkan dengan baik dimakan sebagai namul (hijau) atau ssam (bungkus hijau berdaun) di musim panas. Batangnya sedikit dikeringkan dan dikupas, direbus sebentar dan ditumis dengan biji perilla untuk dijadikan lauk dengan tekstur yang renyah. Umbi talas (akar) memiliki tekstur yang unik dan licin yang tidak disukai semua orang, namun memiliki kualitas yang khas tidak seperti bahan lainnya. ➋ Zat lengket pada potongan melintang umbi talas adalah musin, suatu lendir polisakarida yang memecah protein untuk membantu pencernaan dan penyerapan. Lendir juga ditemukan dalam belut, akar teratai dan ubi, dan merupakan pelumas yang sangat baik untuk perut dan usus. ➌ Kristal kalsium oksalat berbentuk jarum yang terkandung dalam pati talas menyebabkan rasa gatal dan menghasilkan rasa yang pedas. Untuk mengatasi kulit talas penyebab gatal, segera rebus talas dalam air beras dan kupas kulitnya dengan cara digosok. © Shin Hye-woo Ilustrasi MAKANAN DAPAT DIUMPAMAKAN dengan teka-teki karena dalam makanan tersembunyi berbagai kenyataan yang dapat dikuak. Coba tebak saja nama toran ini. Mengapa sayuran ini diberi nama toran padahal ia berbentuk hampir sama dengan kentang jika dikupas? Ketika toran didatangkan ke semenanjung Korea untuk pertama kalinya, masih belum ada nama ‘kentang’ saat itu. Maka, sayuran ini diberi nama toran, sebab ia berbentuk seperti telur yang tumbuh dari tanah (secara harfiah to berarti ‘tanah’ dan ran berarti ‘telur’ dalam Bahasa Korea). Menurut catatan sejarah, toran diperkenalkan pertama kali di semenanjung Korea pada tahun 1824 atau pada zaman kerajaan Joseon. Namun, sebenarnya toran dapat dikatakan sudah muncul jauh sebelumnya, yaitu kurang lebih enam ratus tahun lebih awal karena ia tercatat dalam Hyangyakgugeupbang (Resep Darurat dalam Pengobatan Lokal, tahun 1236) yang ditulis pada zaman kerajaan Goryeo. Selain itu, dalam Donggukisangukjip (Koleksi Karya Menteri Yo dari Negara Bagian Timur, tahun 1241) yang ditulis oleh seorang sarjana, Yi Kyubo, juga ditemukan catatan bahwa sup toran sering dimasak di pedesaan pada masa itu. Sup talas ditandai dengan tekstur talas yang unik dan licin. Sup bening yang terbuat dari daging sapi, lobak dan talas, serta dibumbui kecap memiliki rasa yang sederhana namun dalam. Ini adalah hidangan tradisional yang terutama dimakan di Chuseok, festival panen musim gugur. © Institut Promosi Makanan Korea Kearifan untuk Detoksifikasi Sebagaimana halnya dengan kentang, toran juga termasuk ke dalam famili umbi batang (tuberaceae). Umbi batang merupakan tumbuhan yang memiliki batang bergelembung untuk menyimpan sari di dalamnya. Di Korea toran adalah bahan masakan tradisional yang dimakan pada hari raya Chuseok. Joseon yori jebeop (Resep untuk Masakan Korea, tahun 1917) yang ditulis oleh Bang Sin-yeong (1890 - 1977) mencatat cara masak toran sebagai berikut; Rebus toran yang telah dicuci. Masukkan toran yang telah direbus itu ke dalam sup deunjang atau gomguk (sup dari bahan tulang, usus, atau daging sapi yang direbus dalam waktu cukup lama) dengan dasima (lumput laut). Cara masak ini biasa disebut sebagai “gaya Seoul.” Di Namdo, daerah selatan Korea biasanya dipakai biji perilla untuk sup toran. Sekilas toran dalam sup terlihat tidak ada bedanya dengan kentang. Akan tetapi, jika toran dikunyah dalam mulut, orang baru bisa menyadari teksturnya yang berbeda dengan kentang. Toran terasa licin dan empuk karena getah yang terkandung di dalamnya. Terkadang ada orang yang kurang menyukai toran karena teksturnya yang seperti itu, tetapi sebenarnya unsur getah yang terkandung dalam toran itu cukup bermanfaat untuk kesehatan. Polisakarida yang membentuk getah dalam toran itu berfungsi sebagai prebiotik yang merupakan serat pangan yang memberi asupan bagi bakteri baik di dalam pencernaan. Polisakarida menyerap air dengan mudah dan cepat menggelembung. Berkat hal tersebut, sebuah studi menunjukkan bahwa mukopolisakarida (mucopolysaccharide) dapat digunakan untuk membuat tablet oral disintegrasi (orally disintegrating tablets atau ODT) yang hancur dan larut di dalam mulut meskipun diminum tanpa air. Selain air, unsur yang paling banyak dalam toran adalah pati. Ukuran butiran pati toran kecil, sehingga mudah dicerna, tetapi tidak dapat dimakan mentah. Hal ini disebabkan karena terdapat kristal kalsium oksalat (calcium oxalate crystals) yang tajam seperti jarum halus di dalamnya. Daun dan batang toran juga mengandung kristal kalsium oksalat dan karena tersimpan bersama enzim proteolisis, zat itu akan mengakibatkan rasa sakit jika toran dimakan mentah. Terutama, kristal yang seperti jarum halus itu akan menusuk membran mukosa (lapisan kulit dalam). Yang lebih buruk lagi adalah enzim yang masuk ke dalam luka akan menyebabkan radang dan rasa sakit. Oleh karena itu, saat mengolah toran sebaiknya memakai sarung tangan untuk menghindari kemungkinan kulit gatal, terutama jika getah toran terkena kulit. Sebenarnya toksisitas seperti itu merupakan sifat yang umum dimiliki tumbuhan famili arum atau Araceae, termasuk toran di dalamnya. Pada umumnya hewan tidak makan atau menghindari jenis tumbuhan itu, akibat rasa sakit dan rasa gatal jika makan tumbuhan itu mentah-mentah. Akan tetapi, manusia adalah makhluk omnivor yang unik;manusia menanggulangi masalalah toksisitas dalam tumbuhan itu dengan cara memasaknya menggunakan api. Toran atau batang toran selalu direndam satu hari sebelum dipakai, lalu direbus. Jika toran direbus, enzim di dalamnya tidak berfungsi lagi dan kristal kalsium oksalat juga melebur lalu menghilang. Sebenarnya zat-zat itu tidak lenyap, tetapi berkurang, sehingga membuat toran menjadi cukup layak untuk dimakan. Jika orang tidak mengetahui proses itu, maka pada saat musim gugur tiba, sangat mungkin ia membeli toran di pasar dan langsung memasukkannya ke dalam sup, kemudian sup itu menjadi sulit dimakan karena terasa pedas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sup toran yang kita nikmati setiap hari raya Chuseok mengandung kearifan nenek moyang yang menghilangkan racun dari bahan masakan. Hidangan yang terbuat dari talas dipotong-potong dan direbus dalam kecap dan gula dengan paprika shishito hijau dan bawang putih utuh. Rasanya gurih dan dalam, apalagi jika disantap dengan kuah rebus. ⓒ 10000recipe Untuk menghilangkan rasa pedas pada talas, rebus sebentar, potongpotong dan panggang hingga menjadi keripik dengan tekstur renyah dan rasa gurih. Rendah kalori, menjadi camilan diet yang baik. ⓒ momcooking Berbagai Masakan dan Pencuci Mulut Kita sering mendengar perkataan ‘Bagaikan al-toran’ yang bermakna ‘sesuatu yang sangat berisi dan penuh manfaat.’ Sebenarnya kata al-toran berarti ‘toran yang kulit berambutnya telah dilepaskan.’ Secara harfiah afiks ‘al-’ bermakna bahwa sesuatu yang menutup atau tertempel pada bagian luarnya telah dilepaskan, misalnya albam yang berarti ‘kuayan yang kulitnya telah dilepaskan’ (bam berarti ‘ku- ayan’ dalam bahasa Korea) dan almom yang berarti ‘tubuh telanjang’ (mom berarti ‘tubuh’ dalam bahasa Korea). Sebelum kentang ditemukan, toran dianggap sebagai tanaman yang sangat penting bagi petani miskin dalam melepaskan kelaparan. Dengan demikian, sangatlah wajar kata al-toran menjadi semacam lambang dari sesuatu yang berisi dan penuh manfaat. Meskipun toran memiliki sejarah panjang, konsumsi toran cenderung terbatas hanya pada saat hari raya Chuseok. Menjelang September, toran sering ditemukan di pasar, sedangkan setelah hari raya Chuseok, toran sulit ditemukan. Pada zaman dulu, toran digunakan untuk berbagai masakan, selain dibuat sup. Untuk membuat kue taro, toran dikukus, lalu dikupas, dihancurkan (atau ditumbuk), dan dicampur dengan tepung beras ketan, kemudian digoreng. Cara makan lainnya, yaitu adonan toran itu bisa juga dicampur dengan sayuran lain, lalu digoreng. Sementara itu, pada zaman sekarang yang sering ditemukan dalam masakan bukan hanya toran sendiri, melainkan batang toran juga dipakai untuk yukgaejang (spicy beef soup – sup daging sapi pedas). Pertama-tama, batang toran yang kulitnya sudah dikupas, dikeringkan. Setelah itu, batang toran itu direbus dalam waktu yang cukup lama untuk menghilangkan rasa pedas, lalu direbus lagi bersama daging sapi dan berbagai sayuran. Rasa batang toran yang teksturnya kenyal dan kontras dengan tekstur daging sapi itu mengoptimalkan rasa yukgaejang. Kebanyakan toran dibudidayakan di Gokseong, Provisi Jeolla Selatan. Separuh dari tempat budidaya toran berada di sana dan lebih dari 70 % jumlah panen toran dihasilkan di sana. Oleh karena itu, berbagai masakan yang berbahan toran dapat dinikmati di Gokseong. Sup toran dengan biji perilla merupakan salah satu masakan khas di Gokseong. Aroma toran sangat serasi dengan biji perilla dan daging sapi. Di samping itu, sup deunjang toran, toran rebus, panekuk toran, dan kerak nasi toran di daerah itu juga sangat enak. Tambahan lagi, juga terdapat berbagai produk makanan yang berbahan toran, misalnya roti taro, roti scones taro, kukis taro, keripik taro, and keripik coklat taro. Belakangan ini juga muncul es krim dan apple pie yang berbahan toran, yang ditujukan untuk generasi muda yang merasa asing dengan toran. Toran adalah mutasi dari tumbuhan taro atau colocasia esculenta yang berasal dari Asia (Asia Tenggara dan Asia Tengah bagian selatan) dan Kepulauan Pasifik. Oleh karena itu, generasi muda meski ia belum pernah makan sup toran pasti familier dengan rasa toran jika ia pernah minum bubble tea atau taro milk tea. Toran atau taro dapat berwarna putih atau ungu tergantung jenis dan tempat budidaya, tetapi semua toran atau taro memiliki kesamaan, yaitu rasa manis dan tekstur lembut. Terdapat berbagai masakan dan pencuci mulut yang berbahan taro di seluruh dunia dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika hingga pulau Hawaii. Barangkali kita dapat mengelilingi dunia sambil menikmati sejumlah masakan yang berbahan taro dengan cara masak berbeda-beda. Toran adalah nama Korea untuk berbagai jenis talas yang dibudidayakan di daerah tropis, yang dimakan di seluruh dunia dengan berbagai nama seperti talas, kalo, talo, dalo, dasheen dan eddo.Juga disebut “kentang tropis,” talas tumbuh dengan baik di iklim basah dan rawa-rawa.Bahkan generasi muda yang mungkin belum mengenal talas sebagai makanan sudah tidak asing lagi dengan teh talas yang dibuat dengan mencampurkan bubuk talas dan susu. © Sutterstock Peringatan dari Bunga Toran Toryeon adalah nama lain untuk toran. Nama itu diberikan karena daun toran yang lebar dan tebal bagaikan perisai serta terlihat seperti daun lotus. Toran membuat banyak orang teringat pada masa kecil mereka, yaitu saat mereka menggunakan daun toran sebagai pengganti payung ketika hujan turun di kampung. Sementara itu, tidak banyak yang pernah melihat bunga toran, sebab bunga toran sangat langka sampai ada perkataan ‘bunga toran berkembang seratus tahun sekali.’ Bunga toran sulit berkembang di Korea yang berada di wilayah iklim sedang karena toran adalah tumbuhan tropis. Namun, sejak pertengahan tahun 2000-an bunga toran dapat ditemukan setiap tahun di seluruh Korea. Gejala itu diakibatkan iklim Korea berubah menjadi sub-tropikal yang panas-lembab. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sudah saatnya kita harus menanggapi pemanasan global secara lebih aktif. Itulah peringatan yang disampaikan bunga Toran di Korea. Jeong Jae-hoonApoteker, Penulis Kuliner Shin Hye-wooIlustrasi

People

Momen-Momen yang Berharga

An Ordinary Day 2021 AUTUMN 39

Momen-Momen yang Berharga Pengelola kompleks apartemen menjadi magnet bagi pengaduan dan konflik yang membutuhkan solusi dan mediasi. Untuk menjaga ribuan orang tetap aman dan puas, mereka harus memiliki serangkaian keterampilan khusus. LEE SANG-YONG, manajer kompleks apartemen 510 unit, tiba untuk wawancara 30 menit lebih lambat dari yang dijadwalkan. Dia menelepon untuk meminta penundaan. Masalah mendesak telah muncul; seorang penduduk telah mengajukan keluhan kebisingan kepada pengawas lokasi konstruksi terdekat.Setelah bergegas untuk menjaga konfrontasi agar tidak mendidih, Lee bergegas kembali, nyaris tidak menarik napas. “Biasanya selalu seperti ini.Lagi pula, sayalah yang mereka temui dengan masalah dan keluhan,” katanya.Enam puluh dua persen penduduk Korea Selatan tinggal di apartemen. Pengelola kompleks apartemen harus memastikan semua orang puas dengan komunitas mini mereka – bukan masalah kecil mengingat rentang prioritas, tingkat toleransi, dan tuntutan yang ditemukan di antara ratusan, seringkali ribuan penghuni. Menyelesaikan konflik dan keluhan datang dariwilayah tersebut. Dan itu membutuhkan “keterampilan” yang luar biasa serta ketekunan administratif untuk menjaga lingkungan yang aman dan bersih.Sebelum menjadi manajer apartemen, Lee menghabiskan 32 tahun di militer. Motonya sebagai komandan selalu “1 persen memberi perintah, 99 persen menindaklanjuti.” Sistem komando militer yang menjaga perintah tetap sederhana dan membuat verifikasi menyeluruh ini telah membantunya dengan baik dalam mengawasi Hillstate, sebuah kompleks 10 bangunan yang terletak di Distrik Mapo Seoul, menghadap ke Sungai Han. Setelah pensiun dari militer sebagai letnan kolonel pada tahun 2009, Lee Sang-yong memulai karir yang sama sekali berbeda yaitu sebagai manajer kompleks apartemen Riverside Hillstate di Distrik Mapo, Seoul, yang menghadap ke Sungai Han. Berbagai Keluhan“Tidak apa-apa ketika kita bisa membicarakannya, tetapi terkadang Anda mendapatkan orang yang tidak logis,” kata Lee. Dia ingat seorang penduduk yang bersikeras bahwa bangunannya tenggelam karena lemari es dari setiap unit berada di tempat yang sama, menciptakan agregasi berat yang berbahaya. Tidak yakin dengan riwayat inspeksi yang tidak bercacat sejak pembangunan gedung, residen memaksakan masalah ini ke dewan perwakilan residen. Tiga kontraktor khusus dihubungi secara terpisah dan ketiganya mengatakan tidak ada yang salah.Keluhan yang paling umum, belum lagi sakit kepala terbesar, adalah tentang kebisingan. Hillstate berada di area perumahan yang sangat tenang, sehingga kebisingan dari satu unit atau kendaraan bisa menjadi khas. Seorang warga mengeluh bahwa kendaraan yang masuk dan keluar dari garasi gedungnya terlalu berisik, menolak untuk mengakui bahwa itu adalah area bersama yang tidak dapat sepenuhnya tunduk pada keinginan pribadi.Beberapa minggu sebelum wawancara, seorang warga mengeluh bahwa anak-anak yang tinggal di lantai atas sangat berisik sehingga dia tidak bisa tidur. Seorang penjaga keamanan menghubungi rumah tangga yang bersangkutan hanya untuk menegur karena menelepon pada jam selarut itu. Lee mengatakan dia cukup terganggu.“Tentu saja aku bisa memahami sudut pandang penghuni lantai atas, tapi apa lagi yang harus dilakukan penjaga? Dalam hal keluhan kebisingan antar unit, dalam banyak kasus sejujurnya tidak banyak yang bisa dilakukan. Kadang-kadang bahkan tidak jelas apakah itu unit langsung di atasnya atau tidak. Ditambah lagi, mendengar tetanggamu di lantai bawah mengeluh tentangmu dapat menyebabkan naik darah, jadi aku melatih karyawanku untuk bersabar dengan ucapan mereka yang diungkapkan dalam banyak cara berbeda.” Lee mengawasi 15 karyawan, termasuk penjaga keamanan, pembersih, administrator, dan pemegang buku. Dia mencoba untuk menjaga jalur komunikasi yang terbuka dengan warga dan karyawan. Hari kerja Lee berulangulang dan sangat terstruktur. Tugasnya termasuk membuat pengumuman interkom yang kompleks, yang frekuensinya meningkat seiring dengan prosedur karena dampak pandemi COVID-19. Setiap hari, sejak pagi hingga malam, warga menemui Lee dengan masalah khusus untuk diselesaikan. Mendengarkan dengan seksama, ia menyarankan solusi berdasarkan pemahaman penuh akan perspektif warga. Dari Militer ke ManajemenHingga tahun 1980-an, menjadi manajer perumahan dipilih secara sederhana, pemilik properti merekrut kenalan yang akan mempelajari tugas itu dengan cepat. Saat ini, harus melalui ujian. Sekitar 1.500-2.000 orang berhasil dalam ujian setiap tahun, tetapi tanpa kepribadian dan keterampilan sosial yang tepat, tidak ada pekerjaan. Mereka yang memenuhi syarat juga harus memiliki setidaknya tiga tahun pengalaman mengelola kompleks apartemen dengan jumlah kurang dari 500 unit sebelum mereka dapat bekerja di kompleks yang lebih besar.Setelah Lee pensiun sebagai letnan kolonel pada Juni 2009, seorang kenalan menyarankan agar dia mengikuti ujian sertifikasi manajemen perumahan, berpikir mungkin cocok dengan kepribadiannya. Lee menerima sertifikasinya pada tahun 2011 dan memulai karir barunya pada tahun berikutnya di sebuah kompleks yang memiliki 250 unit. Tujuh tahun kemudian, ia pindah ke kompleksnya saat ini, yang memiliki penghuni campuran lajang dan keluarga dalam unit yang relatif luas.Hari kerja Lee secara resmi dimulai pada jam 9 pagi, tetapi sebenarnya dimulai pada jam 8:05. Terbiasa bangun pagi dari tahun-tahun militernya, ia bangun secara otomatis pukul 5 setiap pagi.“Senin, Selasa, dan Jumat saya tidak datang langsung ke kantor, tapi keliling kompleks dulu,” ujarnya. “Pada hari Senin, untuk memastikan tidak ada yang terjadi selama akhir pekan; pada hari Selasa, untuk melaporkan setelah perusahaan daur ulang melewati sini demi memastikan semuanya sudah dibersihkan; dan pada hari Jumat, untuk melihat semuanya sebelum menyongsong akhir pekan.”Empati dan KesabaranDitanya apakah pernah ada momen ketika dia ingin berhenti, Lee menjawab, “Saya tidak bisa mengatakan bahwa itu tidak pernah terjadi.” Bukan karena kesulitan pekerjaan yang membuatnya gelisah;namun ketika penghuni tidak logis dan menuntut hal yang tidak mungkin. Ketika putus asa, karena penghuni yang marah selalu menyatakan, “Saya sudah menggaji Anda!” Saat itulah Lee diliputi kesedihan. Dia kemudian mundur untuk menenangkan diri. Setelah melalui semacam periode pengendalian pikiran, solusi biasanya disepakati. Untungnya, kompleks saat ini tidak memiliki pengganggu yang ekstrem. Memang, apa yang dimilikinya adalah hal yang luar biasa untuk dirayakan.Banyak warga menawarkan makanan ringan dan minuman ketika mereka melihat anggota staf bekerja di sekitar kompleks. Satu rumah tangga secara khusus membayar penjual buah 60.000 won setiap Selasa untuk menyediakan buah bagi enam penjaga keamanan kompleks dan lima petugas kebersihan. Jumlah ini merupakan pengeluaran tahunan lebih dari tiga juta won yang telah dilakukan sejak sebelum Lee tiba. “Saya pernah mendengar bahwa itu dimulai dengan orang tua, dan sekarang anak perempuannya menjaga tradisi itu,” katanya. Ketika dia mengunjungi rumah untuk mengucapkan terima kasih, keluarga dengan rendah hati meminta tak disebutkan namanya. Lee berangkat ke kereta bawah tanah pada pukul 6 sore. dan tiba di rumah tidak lama sebelum jam 7. Pada pukul 22.30, dia biasanya sudah di tempat tidur. Akhir pekan dihabiskan untuk makan sesuatu yang enak bersama keluarganya, menonton acara TV baduk (go) favoritnya, atau pergi ke pinggiran kota untuk mengunjungi kerabat dan membantu merawat kebun sayur mereka. Lahir di pedesaan, ia dibesarkan dengan membantu ayahnya dalam pekerjaan pertanian. Bahkan hari ini, ia menghabiskan waktu mengerjakan tanah membantu menenangkan pikirannya.Ketika ditanya kualitas apa yang paling penting untuk dimiliki seorang manajer kepala, Lee memilih empati dan kesabaran. Karena pekerjaan melibatkan hubungan langsung dengan orang-orang, seseorang harus dapat bertemu dengan mereka dalam pengertian dan pertimbangan, dan mengendalikan emosinya sendiri. Berkat kemurahan hati dan perhatiannya yang tak kenal lelah, kompleks ini tetap tertata dengan baik.Tahun lalu, banyak warga yang secara sukare- la membantu menanam bunga di depan gerbang.Setelah itu, mereka berkumpul untuk menikmati arak beras dan mengobrol di halaman kompleks.“Momen-momen kecil ini menjadi kesempatan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi,” kata Lee, seraya menambahkan bahwa beberapa warga malu untuk membicarakan suatu masalah meskipun itu layak.Kadang-kadang, saat Lee berkeliling, seorang warga akan mendekatinya dan berkata, “Terima kasih untuk beberapa hari yang lalu, Anda benar-benar membantu, kami tahu Anda bekerja keras.” Kemudian dia berpikir, “Ah, penduduk melihat usaha yang saya lakukan. Saya benar memilih jalan ini.” Inilah saat-saat yang membuat semuanya terasa berharga. Ketika putus asa, warga yang marah selalu menyatakan, “Saya sudah menggaji Anda!” Saat itulah Lee diliputi kesedihan. Kompleks yang dikelola Lee mencakup 10 bangunan dengan 510 rumah tangga, namun kecil dibandingkan dengan kompleks tetangga. Itu terletak di sejumlah besar perumahan bertingkat tinggi yang merupakan salah satu distrik perumahan inti di tepi barat kota pusat Seoul. Hwang Kyung-shinPenulisHa Ji-kwon Fotografer

Mengarahkan Pariwisata ke Tempat Lain

In Love with Korea 2021 AUTUMN 35

Mengarahkan Pariwisata ke Tempat Lain Dari markasnya di Sunchang, sebuah kota pedesaan di Provinsi Jeolla Utara, Lea Moreau melakukan perjalanan ke tujuan yang kurang dikenal di seluruh Korea dengan harapan berbagi dengan orang lain mengenai keinginannya untuk mengalami dunia yang lebih luas. Setiap Rabu dan akhir pekan, Lea Moreau menjadi pemandu Bus Wisata Kabupaten Sunchang, biasanya mengenakan gaun yang terinspirasi dari hanbok.Bus berhenti di tempattempat wisata utama di daerah Sunchang, termasuk Desa Gochujang tradisional, Taman Kabupaten Gunung Gangcheon, dan Gunung Chaegye. BERASAL DARI YZERON, sebuah desa berpenduduk sekitar 1.000 orang di dekat Lyon di Prancis, Lea Moreau menggambarkan dirinya sebagai “bukan gadis mainstream.” Sama seperti dia mengagumi BTS dan Blackpink, saat ini sebagai grup K-pop teratas, artis Korea favoritnya yaitu band rock indie Se So Neon. Dan daripada pesona Seoul, dia lebih memilih hidup di kota kecil.Di Sunchang, sebuah kota pedesaan di Provinsi Jeolla Utara dengan budaya dan adat istiadat rakyat yang kaya, Lea mempromosikan pariwisata sebagai pegawai negeri sipil. Tentu saja, turis terkejut mendapati orang non-Korea yang ditugasi untuk menunjukkan keindahan tempat-tempat wisata di kabupaten itu. Pengucapan bahasa Korea-nya tidak sempurna, tetapi Moreau dengan lancar menciptakan gerakan yang menyenangkan saat dia menyampaikan wawasan.Sementara Sunchang terkenal dengan gochujang (pasta cabai merah) dan memiliki banyak tempat indah, walau agak terpencil. Untuk menarik lebih banyak pengunjung dan membantu mereka bergerak dengan mudah, kabupaten ini membuat tur bus pada tahun 2019 dan mencari pemandu di dalamnya.Seorang teman Lea yang menjalankan kafe jazz di kota merekomendasikannya. “Teman saya berpendapat bahwa saya dapat membantu menarik orang Korea dan orang asing karena saya berbicara dalam bahasa Prancis, Inggris, dan Korea,” kata Lea. Dia sudah memiliki chanel perjalanan di YouTube dan beberapa pengalaman di industri pariwisata.Ketika kabupaten memutuskan untuk menempatkan posisi petugas promosi pariwisata untuknya, harus mendapatkan lampu hijau dari otoritas “lebih tinggi” untuk mempekerjakan orang asing ke dalam sektor layanan sipil. Enam bulan kemudian dia bekerja. Penduduk setempat menyebutnya “gongmuwon Prancis,” yang berarti “pelayan publik Prancis.”Lea adalah tokoh populer di seluruh wilayah.Dia mengendarai skuternya, bagasinya dipenuhi barang-barang seperti sarung tangan kerja, celana kerja longgar, kamera, dan hanbok. Dalam pekerjaannya, dia tidak pernah tahu kapan dia harus membantu petani di ladang atau terinspirasi untuk merekam video. Dia juga menganggap penampilannya di TV di acara seperti KBS “My Neighbor, Charles” sebagai perpanjangan tugasnya. Dia ingin menghilangkan gagasan bahwa ada sedikit yang bisa dilihat di kota-kota kecil dan menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal di Korea daripada sekadar Seoul, K-pop dan K-drama. Hasrat Bertualang Kecintaan akan perjalananlah yang membawa Lea ke Sunchang dari Yzeron. Tumbuh di pedesaan Prancis, dia selalu ingin tahu tentang seluruh dunia. Perjalanan backpacking keluarga keliling Bali saat masih kecil menyalakan sumbunya. “Kami naik sepeda motor. Orang tua saya menempatkan saudara perempuan saya dan saya di antara kedua kaki mereka. Saya pikir perjalanan itu benar-benar mengubah hidup saya,” kenangnya. “Itu mengajari saya bahwa ada orang lain, budaya lain, dan bahasa lain. Dan saya menyadari bahwa belajar bahasa lain akan membuka lebih banyak kesempatan.”Setelah lulus SMA, Lea menghabiskan 18 bulan di Australia, bekerja, belajar bahasa Inggris dan sesekali menikmati menyelam di Great Barrier Reef. Kemudian dia pindah ke Thailand, awal mula dia melakukan perjalanan melintasi Asia Tenggara. Akhirnya berkomitmen pada industri perjalanan, ia menyelesaikan kursus daring yang memberinya gelar sarjana dalam manajemen pariwisata.Salah satu persyaratan kursusnya adalah magang enam bulan di negara mana pun. Seorang teman Korea merekomendasikan Pedro’s House dan Voyager’s Café di Gwangju. Dia tiba pada tahun 2016 dan akhirnya bekerja di situ selama hampir dua tahun.“Saya menyukai Gwangju,” katanya. “Saya belajar tentang sejarah Korea ketika saya masih sangat muda dari kakek saya, yang mencintai sejarah. Dia mengajari saya tentang Korea Selatan dan Utara.Tapi saya tidak tahu sama sekali tentang Gwangju dan pemberontakan demokrasi di sana pada 18 Mei 1980. Itu adalah tempat yang baik untuk belajar tentang sejarah dan masyarakat Korea kontemporer.”Saat tinggal di Gwangju, dia sering bepergian di wilayah Jeolla, terutama ke tempat-tempat terpencil, termasuk banyak pulau terdekat. Namun, perjalanan tersebut membebani backpacker asing karena kurangnya informasi wisata untuk penutur nonKorea. Hal itu mendorongnya untuk menulis buku panduan dengan Pedro Kim (alias Kim Hyeonseok), pemilik Rumah Pedro. Buku itu tidak pernah diterbitkan, tetapi mereka daring dan membuat saluran YouTube “Jeolla Go.”Kemudian, rasa ingin tahu tentang wilayah Gyeongsang membawanya bertugas di pusat budaya di Pulau Geoje, di mana industri pembuatan kapal menyumbang sebagian besar pekerjaan. Ketika dia kembali ke Gwangju, kesempatan di Sunchang memberikan jawaban untuk memburu sesuatu yang permanen. Pandemi COVID-19 telah menghentikan kunjungan orang asing, sehingga Lea Moreau yang menguasai tiga bahasa hampir secara mencolok berbahasa Korea akhir-akhir ini karena hanya sejumlah kecil turis domestik yang mengunjungi Sunchang.Mereka terkejut menjumpai orang asing sebagai pemandu merekaⓒ Lea Moreau Panduan Saat BepergianSebagai petugas pariwisata promosi dan backpacker berpengalaman, Lea senang membantu wisatawan lain menemukan situs yang terabaikan. Dia ingin menghilangkan gagasan bahwa ada sedikit yang bisa dilihat di kota-kota kecil dan menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal di Korea daripada sekadar Seoul, K-pop dan K-drama.Sunchang, kata Lea, adalah tempat bagi salah satu chulleong dari, atau “jembatan goyah” terpanjang di Korea. Ini juga merupakan salah satu tempat terbaik di negara ini untuk menikmati bunga sakura di musim semi, karena tidak seramai Jinhae atau Hadong. Sementara itu, di musim gugur, dedaunan berwarna-warni di Gunung Taman Nasional Gangcheon menarik.Namun, tak lama setelah memulai pekerjaan barunya, pandemi COVID-19 melanda, membuat pariwisata terhenti. Bus wisata Sunchang, dengan wajah tersenyum dan atap yang terbuka, dibuat khusus dengan menggabungkan dua bus, sekarang hanya mengangkut sekitar 10 orang sehari, tiga hari seminggu. Sesuai dengan protokol pandemi, semua orang menjalani pemeriksaan suhu sebelum naik.Tur dilakukan dalam bahasa Korea, kecuali orang asing ada di dalamnya.Pada saat sebagian besar travel bersifat virtual, pekerjaan promosi Lea berlanjut berkat media sosial. Setiap minggu atau lebih, dia mengunggah sesuatu yang baru ke Jeolla Go, dan dia juga berkolaborasi dengan Sunchang Tube, saluran YouTube resmi daerah tersebut. Ini adalah pekerjaan yang paling dia sukai. “Saya suka syuting. Ketika saya masih di sekolah menengah, kelas saya melakukan perjalanan ke Madagaskar dan saya bertanggung jawab untuk merekam perjalanan kami. Walau Itu tidak sungguh-sungguh bermutu saat itu,” katanya.Keterampilannya terbukti telah meningkat; dia memenangkan hadiah dalam kontes video pariwisata tahun lalu. Dengan hadiah uang 1,5 juta won, ia membeli drone untuk panorama filmnya. Dia dikenal sebagai “pelayan publik Prancis.”Dia secara resmi adalah karyawan Institut Mikroba Sunchang untuk Industri Fermentasi dan tugasnya termasuk mempromosikan gochujang (pasta cabai merah) dan doenjang (pasta kedelai) yang terkenal di daerah tersebut.ⓒ Lea Moreau Hidup dalam ImpianLea baru-baru ini memperbarui kontraknya dengan Kabupaten Sunchang selama tiga tahun lagi. “Bagi saya, yang paling penting adalah bertemu orang-orang dan berbagi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka untuk lebih memahami tentang Korea,” jelasnya. “Alasan utama saya tinggal di satu tempat adalah orang-orang yang saya temui dan teman-teman yang saya bangun. Orang Korea sangat ramah. Jika mereka melihat wajah asing, terutama di pedesaan, mereka akan mencoba menawarkan bantuan. Bagi saya, pertemuan seperti itu adalah petualangan tersendiri.”Lea menghargai upaya rekan kerjanya di kantor daerah untuk mengajarinya tentang sistem pemerintahan dan bekerja dengan fakta bahwa bahasa Koreanya tidak sempurna. “Saya tahu mereka benar-benar berinvestasi pada saya dan mempercayai saya,” katanya. Untuk itu dia bersyukur dan menghabiskan 10 jam seminggu mengambil pelajaran bahasa Korea daring.Motto pribadi Lea adalah, “Jangan mimpikan hidupmu, tapi jalani mimpimu.” Dia memiliki banyak tujuan untuk masa depan, seperti menulis buku tentang tinggal dan bepergian di Korea, melakukan acara TV perjalanan, dan berkontribusi pada komunitas lokal dengan membantu mempromosikan bisnis lokal untuk memberikan suara dan visibilitas yang lebih besar kepada mereka. Lea berharap dapat terus menginspirasi orang untuk bepergian dan berbagi perjalanan globalnya. Cho Yoon-jung Penulis Leaps dan PenerjemahHeo Dong-wuk Fotografer

Membawa Fantasi Bolak-Balik

Interview 2021 AUTUMN 39

Membawa Fantasi Bolak-Balik Jeon Min-hee memulai karirnya di antara pelopor penulis fantasi di internet tahun 1990-an. Buku-bukunya, yang seringkali merupakan revisi dari karya-karya sebelumnya, menjadi blockbuster di Cina, Jepang, Taiwan dan Thailand, serta di Korea.Dia mengambil waktu istirahat untuk wawancara di sebuah kafe yang nyaman di dekat Istana Gyeongbok, pusat kota Seoul. Penulis fantasi Jeon Min-hee memulai debutnya pada tahun 1999 di jaringan PC Nownuri dengan “The Stone of Days.” Deskripsi rinci dan prosa lirisnya telah menghasilkan banyak pengikut di dalam dan luar negeri. Tidak ada pembicaraan tentang masa lalu, sekarang atau masa depan karya fantasi Korea yang lengkap tanpa menyertakan novelis Jeon Minhee. Novel pertamanya, “The Stone of Days,” mengangkat Fabian, seorang pegawai toko berusia 18 tahun, untuk menemukan empat permata dari kalung yang dia terima dari ayahnya. Dengan rekor 4 juta tampilan halaman di situs portal Nownuri, “The Stone of Days” tetap menjadi “legenda” di antara penggemar fanatik cerita fantasi.Kreasi dunia fantasi unik Jeon juga memiliki penggemar setia di industri game online. RPG klasik Nexon tahun 2003 (permainan peran) TalesWeaver dan RPG ArcheAge 2013 dari XL Ga- mes keduanya merupakan adaptasi dari bukunya. Bertahun-tahun telah berlalu sejak debutmu.Saya memulai seri pertama saya pada tahun 1999, jadi sekarang sudah 23 tahun. Seri pertama dari tiga bagian serial saya, “Children of the Rune,” berjudul “Children of the Rune – Winterer” (2001-2009), pertama kali diterbitkan dalam bentuk paperback pada tahun 2001, jadi saat ini merupakan tahun dimana “Children of the Rune” berusia 20 tahun. “Children of the Rune” juga merupakan sensasi yang luar biasa.“Children of the Rune – Winterer” berjumlah tujuh volume, dan “Children of the Rune – Demonic” (2003-2020) mencapai sembilan volume. Pada tahun 2018, kami mengganti penerbit dan mengeluarkan edisi revisi dari semuanya.Kami menghitung, dan meskipun ini tidak tepat, kami telah menjual sekitar tiga juta kopi pada saat itu. Mengapa Anda terus-menerus merevisi buku Anda? Kebanyakan novelis fantasi tidak suka merevisi karya mereka. Sangat sedikit dari kami yang mengubah tulisan kami ketika ada kesempatan, seperti yang cenderung saya lakukan. Ini karena menghabiskan waktu yang sama untuk menulis karya baru yang umumnya lebih menyenangkan, belum lagi lebih baik dalam menghasilkan pendapatan baru atau memperkuat reputasi Anda.Saya merevisi dan memoles sampai saya merasa puas dengan versi baru, tetapi kemudian ketika saya melihat kembali setelah beberapa waktu berlalu, saya selalu melihat lebih banyak hal yang ingin saya tambahkan. Sebagai contoh, ketika “The Stone of Days” dirilis ulang pada tahun 2004 oleh penerbit yang berbeda, bagian-bagian di dalamnya yang terasa kurang dewasa, sehingga saya tidak tega membiarkannya dicetak tanpa tersentuh, meskipun tentu saja, saya sangat menyukainya sebagai karya awal saya. Namun, mungkin saja jika saya melepaskannya begitu saja, saya bisa jadi tidak akan mengawali kembali dan merevisi karya saya yang lain. “Orang-orang cenderung berpikir bahwa novel fantasi dibangun langsung dari imajinasi penulisnya, tetapi pada kenyataannya, mereka memiliki dasar penelitian yang luas dan studi yang cermat.” Karya khas Jeon, “Children of the Rune,” terdiri dari tiga bagian:“Children of the Rune – Winterer” (2001-2019), “Children of the Rune – Demonic” (2003-2020) dan “Children of the Rune – Blooded” (2018-). Alur cerita adalah tentang anak-anak yang berjuang untuk bertahan hidup dan membentuk identitas di tengah perebutan kekuasaan pascaperadaban. Bagaimana reaksi pembaca terhadap revisi tersebut?Karena revisi ini melampaui pemolesan kalimat dan benar-benar melibatkan penambahan poin plot dan episode baru, pendapat pembaca cenderung terpecah. Beberapa pembaca yang merasa harus membeli edisi revisi mungkin merasa frustrasi. Namun jumlah pembaca yang menikmati edisi revisi secara bertahap bertambah. Beberapa pembaca bahkan mencatat semua yang berubah dan berbagi detail satu sama lain. Mengapa cerita Anda memiliki kesan abadi?Ketika saya pertama kali membuat serial tulisan saya di situs portal Nownu- ri di usia dua puluhan, saya tidak memiliki pembaca yang nyata dan hanya menulis apa pun yang saya inginkan. Kemudian ketika tulisan saya menjadi sangat populer, terpikir oleh saya bahwa pasti ada banyak orang yang seleranya tumpang tindih dengan saya. Itu memberi saya kepercayaan diri untuk berkonsentrasi memastikan bahwa tulisan saya terus menjadi cerminan akurat dari selera saya sendiri. Jadi saya membiarkan cerita saya tumbuh secara organik, mengikuti ide-ide yang datang kepada saya.Saya ingin tahu apakah ini bukan salah satu pesona yang melekat pada fantasi sebagai sebuah genre. Novel fantasi tidak terbatas pada satu periode waktu saja; mereka memiliki universalitas dan daya tarik yang dapat menutupi dan menyatukan berbagai era. Anda menyeimbangkan antara menciptakan dunia dan detailnya.Orang cenderung berpikir bahwa novel fantasi dibangun langsung dari imajinasi penulis, tetapi pada kenyataannya, mereka memiliki dasar penelitian yang luas dan studi yang cermat. Misalnya, untuk membuat cerita dengan latar belakang kota imajiner yang tidak ada dalam kehidupan nyata, seseorang harus terlebih dahulu meneliti sejarah budaya kota manusia selama berabad-abad. Pekerjaan persiapan semacam inilah yang memungkinkan tercipta komposisi rumit dan deskripsi mendetail. Bagaimana Anda mulai menulis novel fantasi?Saya mulai mempelajari genre ini ke- tika saya masih sangat muda. Saat itu, saya hanya menulis apa saja yang ingin saya tulis, tetapi ketika saya melihat ke belakang, saya menyadari bahwa saya telah menulis fantasi. Saya menjadi lebih sadar akan perbedaan genre saat saya menjadi aktif dalam grup fantasi di Nownuri – dan saat itulah saya benar-benar mulai menulisnya dengan benar.Jika saya pikir-pikir lagi, saya sangat beruntung. Tahun 1990-an adalah saat ketika novel fantasi baru mulai mendapatkan daya tarik [di Korea], dan ada sesuatu tentang zeitgeist yang masuk akal bagi saya. Saya merasa bahwa sekarang ini selera pribadi saya beresonansi dengan orang-orang yang menyukai cerita semacam itu, dan energi itu akhirnya menjadi cukup kuat.Saya adalah mahasiswa baru pada tahun 1994, jadi ketika saya menjadi senior, pada tahun 1997, Korea mengalami krisis keuangan [Asia]. Tidak ada pekerjaan bagi siapa pun, termasuk lulusan baru. Karena bagaimanapun juga tidak ada cara bagi saya untuk menghasilkan uang, itu adalah kesempatan untuk mencoba sesuatu yang saya sukai. Apa yang membuat Anda tertarik dengan genre fantasi?Menurut saya mungkin sebagai anak kecil, saya membaca serangkaian “cerita klasik dunia” yang ditujukan untuk anak-anak. Saya menyukai cerita yang terasa unik dan berbeda dari yang lainnya. Misalnya, saya sangat menyukai “The Brothers Lionheart” oleh penulis Swedia Astrid Lindgren, yang juga menulis seri “Pippi Longstocking”. Bahkan, saya kemudian menyadari betapa besar pengaruh buku itu terhadap “Childrens of the Rune – Winterer.” Apa yang berbeda pada novel Anda?Saya tidak berpikir saya orang yang tepat untuk mencoba dan mengidentifikasinya. Sesekali, akan ada pembaca yang menulis karya kritiknya sendiri atas bangunan dunia saya. Misalnya, ada pembaca yang mengkategorikan karya saya sebagai “fiksi dewasa muda”. Saya pikir itu masuk akal.Saat ini, sastra dewasa muda memiliki tempat yang stabil di pasar sastra Korea, tetapi ketika saya pertama kali mulai menulis, kategorinya bahkan tidak ada. Ada alasan mengapa saya memilih orang dewasa muda sebagai target pembaca saya. Pada periode pra-modern, ada upacara kedewasaan dan ritus peralihan untuk anak-anak, dan saya ingin menulis tentang ritus peralihan untuk pembaca seusia itu – dalam proses trans-formasi dari anak-anak menjadi dewasa.Bagi saya itulah struktur “Children of the Rune – Winterer.” Anak-anak menemukan diri mereka dalam situasi di mana tidak ada yang dapat membantu mereka, bahkan orang tua mereka, dan pada akhirnya akan berhadapan langsung dengan objek asli yang membuat mereka lari dari rasa takut. Anda harus memiliki banyak pembaca jangka panjang.Volume tera k h i r dari seri kedua “Children of the Rune” keluar pada tahun 2007, dan volume pertama dari seri ketiga, “Children of the Rune – Blooded,” dirilis pada tahun 2018. Itu selisih lebih dari 10 tahun. Mungkin saja ada pembaca yang melupakan buku-buku saya saat itu. Pasti ada pembaca yang sudah dewasa dan sudah mendapatkan pekerjaan atau sudah menikah. Tetapi ketika saya mengadakan penandatanganan buku di Toko Buku Kyobo pada suatu pagi musim dingin yang bersalju, lebih dari 500 pembaca muncul. Sejujurnya saya tidak percaya. Mereka itu pembaca sejak “Children of the Rune - Winterer” ketika mereka masih di sekolah dasar dan menengah, dan sekarang mereka telah dewasa, di usia dua puluhan dan tiga puluhan. Apa rencana Anda ke depan?Sebenarnya, jadwal saya benar-benar padat untuk tahun depan. Saya sedang berada di tengah naskah untuk game baru yang harus terus saya kerjakan, dan saya juga akan terus menulis “Children of the Rune – Blooded”.

Berkebun dalam Ruangan

Lifestyle 2021 AUTUMN 39

Berkebun dalam Ruangan Pandemi virus corona telah menabur minat luas dalam berkebun. Tanaman hijau menenangkan saraf dan mencerahkan ruangan, sementara sayuran buatan sendiri membantu orang mengatasi kenaikan harga pangan. Berkebun di rumah menunjukkan green thumbs (jempol hijau) dari semua generasi yang karena pembatasan terkait COVID-19 memaksa lebih banyak beraktivitas di rumah.Sebuah rangkaian kelas daring menyajikan cara terbaik penanaman sayuran dan bunga.© KELAS 101 TERPAKSA BEKERJA DARI RUMAH, Park Eunjin, 36, pertama kali membeli sebuah tanaman kecil sebagai balsem untuk keletihan akibat pandemi COVID-19. Sekarang balkonnya dipenuhi tanaman hijau dan dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa hidup tanpa tanaman. “Saya mengalami depresi akibat virus corona. Tapi sekarang saya merasa nyaman dan stabil saat merawat tanaman saya,” katanya.Kim Kyeong-seon, seorang ibu pekerja berusia 39 tahun, selalu menghubungkan berkebun dengan generasi orang tuanya sampai dia menemukan kelas berkebun daring satu hari. Dengan segera, tanaman diletakkan di balkonnya untuk memberikan aktivitas bagi anak-anaknya, yang tidak dapat bersekolah atau mengunjungi peternakan sebagai hobi akhir pekan karena pembatasan terkait COVID. Ketika pandemi mereda, Kim berencana untuk mendaftar di kelas luring yang dikhususkan untuk “planterior”, gabungan dari “tanaman” dan “interior” yang menekankan efek dekoratif dan menenangkan yang ditawarkan tanaman dalam ruangan.Sekitar satu dekade yang lalu, pensiunan mulai merangkul berkebun interior. Sekarang, pandemi telah memicu minat di antara mereka yang lebih muda dan lebih tua, yang dijuluki “farmrini” – gabungan dari kata “pertanian” dan “eorini” (“anakanak” dalam bahasa Korea). Awalnya, farmrini merujuk pada pemula di RealFarm, sebuah game jejaring sosial.Karena mudah untuk memulai – cukup dengan masukkan tanah ke dalam mangkuk dan gabungkan dengan bibit, air, dan sinar matahari – banyak pemula yang belum pernah memiliki rumah dengan pekarangan, dengan cepat berkeyakinan bahwa tangan mereka yang berlepotan tanah akan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. dan praktis. Di kompleks apartemen saat ini, bentuk utama perumahan, taman balkon terlihat di manamana, dengan barisan sayuran dan tanaman berbunga hias yang ditumpuk di rak logam. Di lingkungan yang lebih tua, sayuran dapat menempati sepetak tanah dan memenuhi lorong-lorong sempit di dalam pot. Banyak orang mengatasi virus corona dengan merawat tanaman, yang membantu memproduksi serotonin, bahan kimia yang dianggap mengatasi kecemasan. © Park Hee-ran Dengan tanaman pot, anak-anak dapat menikmati alam di ruang tamu mereka. Sekarang apartemen merupakan bentuk utama perumahan di Korea, ruang keluarga, balkon dan atap berubah menjadi taman mini.© Getty Image Korea Tren BotaniDi satu sisi, semangat untuk berkebun di rumah sudah prima sebelum pandemi. Seoul Botanic Park, hal sejenis pertama di ibu kota, dibuka pada Oktober 2018 dan sejak itu telah menerima lebih dari 10 juta pengunjung. Setelah kesuksesan ini, “botani” telah menjadi label favorit di papan nama semua jenis tempat - kompleks apartemen, hotel, aula pernikahan, kedai kopi, agen real estat, ruang biliar, rumah sakit dan toko serba ada.Bahkan sebelum itu, merek department store Tiga Besar Korea – Lotte, Shinsegae, dan Hyundai – mulai mencoba untuk saling mengalahkan dengan pajangan taman. Awal tahun ini, department store terbesar di Seoul, The Hyundai, mengubah desain tradisional tempat belanja ritelnya. Ia berkomitmen memberikan 49 persen dari seluruh area bisnisnya menjadi taman dalam ruangan dan tempat istirahat, tidak menekankan ruang lantai yang penuh dengan rak dan produk.Penjualan eceran perlengkapan berkebun di rumah mengalami meledak. Lotte Mart, jaringan hypermarket, mengatakan penjualan perlengkapan berkebun pada Januari meningkat 17,6 persen pada 2019 dan 18,7 persen pada 2020, dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020, ketika pembatasan pandemi membatasi pergerakan yang tidak penting dan menutup bisnis dan sekolah, penjualan pot bunga dan vas masing-masing naik 46,5 persen dan 22,3 persen. Platform belanja daring Interpark mengatakan penjualan perlengkapan berkebun meningkat 32 persen secara tahunan di paruh kedua tahun 2020.Bisnis persewaan pembudidaya hidroponik juga berkembang pesat. Menurut Asosiasi Promosi Penemuan Korea, nilai pasar pembudidaya hidroponik diperkirakan akan tumbuh dari 10 miliar won pada 2019 menjadi 500 miliar won pada 2023. Industri pameran terkait juga melonjak. Pameran khusus berjudul “Halo, Tanaman Rumah Saya” diadakan di Arboretum Nasional Sejong di Provinsi Chungcheong Selatan awal tahun ini, dan pameran bertema “Berkebun” akan berlanjut di Piknik, sebuah kompleks budaya di Seoul, hingga Oktober.Setelah pandemi mereda, memulihkan segudang pilihan di luar rumah, kebutuhan pangan mungkin masih mempertahankan minat berkebun dalam ruangan. Dari tahun ke tahun, harga daun bawang dan bawang putih masing-masing naik 130 persen dan 53 persen, pada Mei 2021. Keduanya penting dalam pembuatan kimchi dan berbagai lauk pauk lainnya, sehingga banyak rumah tangga yang membudidayakannya sendiri.Ketertarikan menanam daun bawang mengilhami portmanteau lain: “patech,” dari “pa,” kata Korea untuk daun bawang, dan “jaetech,” turunan dari kata Jepang “zaitech,” mengacu pada metode rekayasa keuangan yang diterapkan untuk melakukan investasi yang memiliki potensi tinggi.Semakin lama Green Thumb (Jempol Hijau) dapat menahan anggaran makanan, semakin baik kemungkinan sayuran akan terus terlihat tumbuh di balkon apartemen dan rak di samping jendela. Planterior dan Tanaman PiaraanTren planterior datang setelah berkebun interior.Analisis pembelian kartu kredit oleh Hana Institute of Finance menunjukkan penurunan penjualan bunga dan tanaman berbunga masing-masing sebesar delapan persen dan 10 persen dari Januari hingga Februari 2020. Tetapi pada bulan Maret, ketika pembatasan COVID diperketat, trennya berbalik tajam, naik empat hingga 30 persen setiap bulan dari April hingga Oktober.Di beberapa rumah tangga, tanaman lebih dari sekadar cara untuk mempercantik interior. Mereka telah menjadi piaraan. Gagasan ini telah melunakkan perasaan kesepian dan keterasingan, terutama di antara para lajang dan orang tua. Minat berkembang setelah selebriti, termasuk anggota boy band mega-hit BTS, mulai men-tweet tentang tanaman mereka dan menyebut mereka sebagai piaraan.Analisis pemerintah terhadap tren konsumen terhadap tanaman yang mengalir menunjukkan jumlah klik atau pencarian pada industri florikultura dan bunga meningkat sekitar 10,3 persen pada tahun 2020, yang mencerminkan meningkatnya minat pada tanaman hias dan tanaman piaraan.Stephen Kaplan, seorang psikolog Amerika, mengajukan teori pemulihan perhatian yang menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan dengan alam dapat menghilangkan kelelahan mental. Tanaman meningkatkan kadar serotonin dan mengurangi depresi dan kecemasan. Mereka yang telah terpesona dengan berkebun di rumah kemungkinan telah mengalami kekuatan penyembuhan oleh tanaman. Ini meningkatkan kemungkinan berkebun di rumah diterima sebagai gaya hidup bahkan setelah pandemi mereda.Bagaimana selanjutnya? Mungkin perusahaan seperti Herbert, startup Austria yang memiliki sistem yang disebut “Ponix”, memungkinkan tanaman ditanam secara vertikal untuk membuat desain dinding dan perlengkapan seperti bingkai foto; atau Vincross, perusahaan rintisan Tiongkok yang telah mengembangkan pabrik robot yang bergerak seperti piaraan. Untuk layanan perawatan tanaman, klinik tanaman dan hotel akan merawat tanaman hias dan mengizinkan wisatawan untuk menurunkan tanaman mereka dan kemudian mengambilnya kembali setelah perjalanan mereka. Bahkan ada layanan daring yang memberikan diagnosis atau resep obat untuk tanaman hias. Di beberapa rumah tangga, tanaman lebih dari sekadar cara untuk mempercantik interior. Mereka telah menjadi piaraan. Pelajaran daring yang mudah diikuti menjangkau lebih dari sekadar memasukkan tanah dan tanaman ke dalam pot. Berbagai kelas ditawarkan, termasuk penataan tanaman untuk hiasan dinding.ⓒ KELAS 101 Kelas berkebun di rumah juga disebut kursus “kurasi tanaman”. Mereka memberikan pandangan lebih dekat pada siklus tumbuh, anjuran dan larangan menanam tanaman, dan cara menggunakannya untuk keindahan ruang. ⓒ KELAS 101

Berburu Uang Cepat

Lifestyle 2021 SUMMER 117

Berburu Uang Cepat CULTURE & ART--> Berburu Uang Cepat Pandemi COVID-19 memicu aksi jual saham besar-besaran. Tetapi lonjakan kuat yang mengikuti, melahirkan generasi baru investor yang mencari solusi bagi situasi rumit pendapatan dan simpanannya. Im Su-bin, seorang senior perguruan tinggi beru¬sia 29 tahun, baru-baru ini mulai berinvestasi di saham dengan 300.000 won (sekitar US $ 260) yang dia peroleh dengan bekerja paruh waktu. Mes¬kipun kerja magang tidak terlalu sulit di Korea, tam¬paknya mustahil untuk mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang layak karena perusahaan ragu-ragu untuk menambah karyawan tetap. Karena putus asa, saya pin¬dah ke perdagangan saham untuk membantu menutupi biaya.Kim A-ram, penerjemah lepas berusia 33 tahun, berencana menghabiskan sebagian tabungannya untuk bulan madu Desember lalu. Tetapi peraturan untuk mencegah penularan COVID-19 membuat banyak kera¬bat dan teman tidak dapat menghadiri pernikahannya. Maka dia menundanya dan menaruh simpanan bulan madunya di pasar saham. Dia menggantungkan harap¬annya pada peningkatan pasar yang akan menghasil¬kan uang sebanyak mungkin untuk membantu memulai kehidupan pernikahannya.Kedua investor pemula ini bukanlah orang langka dalam kelompok usia mereka. Pada tahun 2020, terda¬pat 9,14 juta investor individu di pasar saham Korea, dan sekitar sepertiga dari mereka adalah pendatang baru, menurut Korea Securities Depository.Jumlah total saham yang dimiliki oleh investor per¬orangan mencapai 662 triliun won pada akhir 2020, naik 243 triliun won dari 419 triliun won pada akhir 2019. Investor individu menyumbang 28 persen dari total nilai pasar, naik 3,6 persen dalam tahun.Laki-laki memiliki saham senilai 489 triliun won, lebih dari dua kali lipat jumlah yang dimiliki oleh perempuan (senilai 173 triliun won), tetapi perempu¬an ternyata unggul dalam memilih saham; Nilai saham milik investor wanita meningkat 77 persen, dari 97 trili¬un won pada 2019 menjadi 173 triliun won pada 2020. Sementara itu, saham milik investor pria naik 52 per¬sen, dari 321 triliun won menjadi 489 triliun won, pada saat yang sama. Banyak aplikasi daring memfasilitasi transaksi saham. Pialang menawarkan insentif untuk menangkap peningkatan pesat investor baru di usia 20-an dan 30-an, banyak dari mereka yang disebut “semut” yang berharap untuk mengubah gaji rendah menjadi keuntungan besar. Kesempatan BerbelanjaGenerasi muda di Korea telah berjuang untuk menda¬patkan pekerjaan yang stabil dan teratur selama bebe¬rapa dekade. Sejak krisis keuangan Asia 1997 dan kri¬sis keuangan global 2008, perusahaan-perusahaan telah mengurangi pekerja penuh waktu, sebagai gantinya mengandalkan perekrutan pekerja jangka pendek. Seca¬ra bersamaan, suku bunga rendah yang berkepanjangan telah membuat rekening tabungan tidak dapat diguna¬kan. Hal ini telah membuat generasi dewasa muda ber¬juang secara finansial, untuk berkata ‘ya’ dalam mena¬bung demi pernikahan atau membeli rumah.Kemudian COVID-19 membuka jendela kesempat¬an. Pada 5 Januari 2020, patokan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) ditutup pada 2206. Tetapi karena ancaman eksistensial pandemi terhadap pereko¬nomian menjadi lebih mengkhawatirkan, KOSPI ping¬san hingga akhirnya mencapai titik terendah pada 1566, kerugian 29 persen, pada 20 Maret. Hal itu pulih kare¬na Korea memanfaatkan beban kasus COVID-nya, dan optimisme atas pengembangan vaksin, stimulus peme¬rintah, dan pemulihan ekonomi memicu pertumbuhan tajam.Harga saham berada pada level tawar-menawar dan stabilitas kenaikan untuk kembali ke normal ber¬arti keuntungan dengan cepat dapat diraih. Gelom¬bang anak muda membuka rekening untuk “menda¬yung perahu mereka sendiri saat air datang,” seper¬ti kata pepatah. Kemudian, seiring berlalunya tahun, pasar tenaga kerja memberi mereka lebih banyak alasan untuk mencari uang tunai dengan cepat. Menurut Sta¬tistik Korea, 3,51 juta orang berusia 20-an memiliki pekerjaan pada Desember 2020, turun 3,9 poin per¬sentase dari tahun sebelumnya, dan turun lebih drastis daripada kelompok usia lainnya. Secara proporsional, tingkat pengangguran naik, dengan usia di antara 20-an meningkat 0,9 poin persentase per tahun di Desember 2020.Individu, terutama investor pemula berusia 20-an dan 30-an, dilaporkan menyumbang sebagian besar peningkatan dalam perdagangan saham selama tahun 2020 - dan kegilaan oportunistik mereka terbayar dengan sangat baik. KOSPI menutup tahun 2020 pada 2.873,47, lebih dari 80 persen di atas level terendah tahun ini di bulan Maret. Perhatian MediaKata-kata dan frasa baru telah menyertai gelombang besar ini. Salah satunya adalah “Gerakan Semut Dong¬hak,” yang berasal dari pengikut petani Donghak, atau “Pembelajaran Timur,” yang memberontak melawan gangguan asing menjelang akhir abad ke-19 selama era Joseon. Istilah tersebut menyiratkan bahwa investor muda berskala kecil membeli saham untuk melindungi pasar saham domestik dari investor institusi asing. “Semut” mengacu pada pekerja muda yang digaji. Kata kunci lainnya adalah jurini, yang berasal dari jusik (saham) dan eorini (anak), yang berarti “investor saham pemula”.Liputan media juga meluas. Di masa lalu, hanya saluran TV yang didedikasikan untuk bisnis yang beru¬rusan dengan saham dan investasi. Tetapi hari ini, bah¬kan acara hiburan mencakup topik-topik ini. Contoh tipikal adalah “March of the Ants,” sebuah variety show KakaoTV yang dibawakan oleh selebriti. Diluncurkan September lalu, program ini menampilkan bagaimana selebriti berinvestasi di saham menggunakan akun yang dibuka atas nama mereka. Ini mendapat tanggapan yang baik dari penonton dan telah tersedia di Netflix. Setiap episode rata-rata ditonton dua juta kali.Sementara itu, MBC TV memperkenalkan acara bincang-bincang yang berfokus pada perdagangan saham, “Ant’s Dream”, terbagi atas dua bagian pandu¬an. Pakar ekonomi memberikan penjelasan rinci kepada selebriti tentang dasar-dasar perdagangan saham. Dan di SBS TV, episode khusus dari variety show “Run¬ning Man” yang telah lama berjalan menampilkan ske¬nario pasar saham tiruan. Pembawa acara TV populer Yoo Jae-suk juga berbicara dengan tiga investor saham muda sebagai bagian dari acara “Hangout with Yoo” di SBS pada bulan Maret. Volume penjualan dan pendapatan dari pembukuan saham, investasi, dan reksa dana meningkat lima kali lipat pada kuartal pertama tahun 2021 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020, menurut Interpark, sebuah platform buku daring. Tren AbadiPara ahli percaya bahwa antusiasme orang dewasa muda untuk perdagangan saham memiliki keberlan¬jutan jangka panjang. Selama beberapa dekade, tidak ada pemasukan yang berarti dari pekerjaan yang rapuh dan harga rumah yang melambung tinggi. Terlepas dari serangkaian tindakan pencegahan pemerintah, harga apartemen di Seoul, tempat tinggal hampir setengah penduduk Korea, naik berlipat ganda selama beberapa tahun terakhir.Dengan menguapnya impian mereka untuk memi¬liki rumah, kaum muda dengan sendirinya menun¬da pernikahan hingga mereka dapat menabung cukup banyak. Pada tahun 2020, jumlah pernikahan jatuh ke titik terendah sepanjang masa sejak pencatatan dimulai pada tahun 1970. Sekitar 214.000 pasangan menikah tahun lalu, turun 10,7 persen per tahun, menurut Pusat Statistik Korea. “March of the Ants,” sebuah acara varietas KakaoTV yang memberikan tips investasi saham kepada investor pemula, telah diperbarui untuk musim keempat. Sebuah survei oleh layanan portal pekerjaan online JobKorea menemukan tiga dari setiap 10 mahasiswa di negara tersebut berinvestasi di saham. Sekitar setengah dari mereka terjun ke pasar saham kurang dari setahun yang lalu karena pandemi COVID memperburuk prospek pekerjaan mereka yang sudah melemah. “Usia 20 dan 30-an saat ini benar-benar berbeda dari generasi sebelumnya, yang membeli mobil dan bermimpi membeli rumah di usia 20-an dan 30-an dengan menabung gaji bulanan mereka,” kata Park Sung-hee, seorang rekan senior di Institut Riset Tren Korea. “Akhir-akhir ini, kaum muda menyewa mobil, dan membeli rumah adalah hal yang mustahil bagi mereka.”“Daripada menabung untuk masa depan yang jauh, mereka mencari peluang untuk mendapatkan keuntung¬an dari investasi jangka pendek yang dilakukan dengan sedikit uang,” katanya. “Pekerjaan sulit ditemukan dan tidak ada yang menjamin pekerjaan seumur hidup. Tren ini menjadi makin mencolok sejak merebaknya pande¬mi virus korona.”“Kaum muda mencari target investasi yang tidak membutuhkan kontak langsung. Dalam situasi yang hampir tidak mungkin untuk bepergian ke luar negeri dengan bebas, mereka secara alami mengalihkan pan¬dangan mereka ke perdagangan saham, yang dapat mereka lakukan dengan mudah menggunakan smart-phone,” tambah Park. Ra Ye-jin Ekonom; Reporter, Harian JoongAng Ilbo S

Review

Indahnya Jalinan Hubungan

Books & more 2021 AUTUMN 27

Indahnya Jalinan Hubungan Indahnya Jalinan Hubungan “My Brilliant Life” “Hidupku yang Cemerlang”, oleh Ae-ran Kim diterjemahkan oleh Chi-Young Kim 203 halaman, USD 14.00, New York: Forge Books (2020) Novel karya kim ae-ran yang diluncurkan pada tahun 2011 ini menceritakan kisah seorang pemuda bernama Areum dan kehidupannya yang singkat namun cemerlang. Dia mengalami penuaan dini, yaitu pada usia 16 tahun, dia sudah memiliki tubuh seperti pria berusia 80 tahun. Akan tetapi, cerita kisah ini lebih mendalam dari itu.Areum terobsesi dengan sebuah tugas yang ingin diselesaikannya sebelum ulang tahunnya yang ke-17, yakni menulis kisah tentang keluarganya. Dia memulai kisah itu dengan bercerita tentang bagaimana orang tuanya bertemu, yang diperolehnya dari apa yang mereka katakan padanya. Areum, seorang pengamat yang cukup tajam untuk menangkap sesuatu yang tidak cocok detail dalam cerita orang tuanya, tetapi cukup dewasa untuk tidak tergoda memihak pada satu pihak atau pihak lainnya. Namun, sebenarnya dia “memihak pada cerita,” seolah-olah cerita itu berada terpisah dari orang-orang yang diceritakannya.Tidak ada cerita yang diceritakan tanpa motivasi di baliknya, meskipun motif itu sekadar untuk menghibur. Bagi Areum, cerita itu adalah sebuah hadiah yang ingin diberikan kepada orang tuanya karena dia tidak akan hidup cukup lama untuk memenangi penghargaan atau bahkan sekadar untuk mendapatkan sebuah diploma dari universitas. Seperti anak yang bersemangat lainnya, dia ingin membuat orang tuanya gembira, sehingga dia membayangkan bahwa mereka akan mengagumi kosakatanya yang kaya dan struktur kalimatnya yang elok. Akan tetapi, ini hanyalah bagian permukaan dari motivasinya. Ketika dia muncul di sebuah acara televisi yang menampilkan orang-orang berkebutuhan khusus, dia merasa sesuatu yang berbeda dengan kenyataan karena dia terlihat jauh lebih baik di acara TV itu dibandingkan dengan apa yang dia rasakan. Maka, dia belajar mengenai kebenaran apa yang akan terjadi jika kisah seseorang diceritakan oleh orang lain.Setelah muncul di acara televisi tersebut, dia menerima sebuah email dari remaja lain yang juga sakit kritis, yaitu seorang gadis bernama Seoha. Dalam pertukaran email mereka, Seoha mengungkapkan bahwa impian rahasianya adalah untuk menjadi seorang penulis. Motivasi Areum untuk menceritakan kisah keluarganya pun diperbaharui. Perubahan itu meningkatkan keinginannya untuk menulis kisahnya, yaitu keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kita boleh mencoba membuat orang lain terkesan akan tulisan kita, tetapi sesungguhnya yang kita inginkan adalah agar mereka memahami kita. Pemahaman merupakan jaringan ikat yang menghubungkan seluruh alam semesta menjadi satu makhluk hidup. Tanpa pemahaman tersebut, kita semua adalah entitas yang terpisah-pisah, pulau-pulau yang terombang-ambing di atas laut dingin. Namun, begitu kita memahaminya, kita melihat bahwa kita semua terhubung dengan cara yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.Jadi, meskipun kisah Areum tentu saja menyedihkan, kisahnya bukan kisah tragis – atau setidaknya dengan hubungan yang akhirnya terjalin antara Areum dan keluarganya berdasarkan simpati, kisahnya terangkat menjadi sesuatu yang lebih dari tragedi. Tidak ada jawaban mudah untuk setiap pertanyaan yang Areum hadapi, tetapi memulai perjalanan bersamanya saat dia mencari jawaban tersebut sangatlah berharga.Kita merasakan hidupnya yang penuh kecemerlangan itu saat dia menjalaninya dengan kemampuan terbaiknya. Sebenarnya nama dia, Areum, dalam bahasa Korea berarti “sepenuh tangan” dan ini tampaknya tepat; sebab, membaca novel ini berarti merangkul Areum dan keluarganya, dan tangan kita menjadi sangat penuh, sehingga yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul mereka lebih erat lagi. Nyanyian Getir dalam Harapan “Hope is Lonely” “Harapan itu Kesepian”, oleh Kim Seung-Hee diterjemahkan oleh Brother Anthony dari Taizé 129 halaman, GBP 10.79, Lancashire: Arc Publications(2021) Puisi kim seung-hee yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Brother Anthony, bisa jadi tidak nyaman atau bahkan membingungkan untuk dibaca, tetapi seperti semua puisi bagus lainnya, puisi itu menarik respons emosional yang kuat dari dalam diri pembacanya.Antologi puisi ini, yang menyatukan puisi-puisi terpilih dari dua kumpulan puisi terakhir Kim, yaitu “Harapan itu Kesepian (Hope is Lonely)” dan “Seekor Ikan Croaker di Atas Talenan (A Croaker on a Chopping Board),” mengambil pendekatan yang agak unik untuk sebuah terjemahan puisi: antologi ini menyajikan versi asli bahasa Korea dan versi terjemahan bahasa Inggrisnya berdampingan satu sama lain. Hal ini sebagai pengakuan atas fakta bahwa, seperti yang dicatat oleh editor, terjemahan puisi bukanlah puisi dalam bahasa Inggris atau puisi dalam bahasa asing, tetapi sesuatu yang sama sekali lain – sesuatu yang tidak menggantikan yang asli, tetapi ada dalam sebuah hubungan yang hampir bersimbiosis dengan versi asli tersebut.Antologi ini memiliki banyak hal yang ditawarkan, bahkan kepada pembaca yang tidak dapat membaca teks aslinya. Puisi tersebut pada awalnya tampak gelap dan sedih, bahkan kadang-kadang mengerikan, tetapi terdapat harapan dan penyembuhan di sisi lainnya. Jika puisi tituler “Harapan itu Kesepian” dibaca sekilas, puisi itu terlihat sebagai sebuah pujian terhadap keputusasaan. Namun, pembacaan lebih seksama menunjukkan bahwa puisi itu sebuah lagu cinta getir dalam harapan. Saluran Youtube yang Menggetarkan K-Pop “DKDKTV” oleh David Kim dan Danny Kim, YouTube Dkdktv dimulai pada ta hun 2016 ketika penciptanya, David Kim dan Danny Kim, memutuskan untuk menggabungkan dua tren populer, yakni K-pop dan video reaksi. Ironisnya, mereka awalnya bukan penggemar K-pop, tetapi setelah sangat tertarik pada grup seperti BTS, Big Bang, dan EXO, mereka mulai menciptakan video reaksi tentang K-pop, menawarkan pandangan tentang Korea mereka kepada audiens yang berbahasa Inggris. Saat video-video tersebut mendapatkan perhatian, saluran ini mulai memperluas diri dengan menciptakan video seri lain. Kini, DKDKTV memiliki lebih dari 700.000 pelanggan (subscribers) dan sebuah basis penggemar setia dengan julukan tersendiri, yakni Ducks. Danny, David, dan pembawa acara tamu menyajikan berita dan kejadian terbaru dalam dunia K-pop kepada para Ducks.Program berita mingguan , “DK News” adalah acara yang bagus untuk pelanggan yang baru mulai menaruh minat pada K-pop. Untuk diskusi lebih mendalam, terdapat KSTea, sebuah acara live-stream (siaran langsung) berdurasi satu jam yang “membongkar rahasia” dalam dunia K-pop. David dan Danny juga membuat video penjelasan untuk penggemar asing, seperti dua seri berikut:“K-pop Explained by a Korean (K-pop dijelaskan oleh seorang Korea)” dan “K-pop History Explained (Pemaparan Sejarah K-pop)”. Charles La Shure Profesor, Departemen Bahasa dan Sastra Korea, Universitas Nasional Seoul

Bangunan Estetika Beton

Art Review 2019 SUMMER 185

Bangunan Estetika Beton Desain hotel Healing Stay Kosmos ini terinspirasi dari tempatnya. Arsitek yang merancangnya sangat mengerti bahwa ketika diamati dari pulau di sisi timur wilayah Korea, bintang, bulan, matahari dan cakrawala tampak jauh lebih mangagumkan. Lalu, terbersitlah keinginan merancang struktur bangunan yang alami dan kosmis. Pulau Ulleung berjarak 217 km dari kota Pohang di pantai timur. Di sebelah barat laut pulau, di atas tebing yang tercelup ke laut berdiri arsitek karya sensasional Kim Chan-joong, Healing Stay Kosmos, mencapai harmoni yang indah dengan latar alamnya. © Kim Yong-kwan Perjalanan ke Pulau Ulleung lumayan menantang. Perlu waktu tujuh jam dengan kereta atau kapal dari Seoul. Ombak besar yang membuat kapal sering kali tidak bisa melaut menjadikan pulau ini tidak terjangkau selama hampir 100 hari dalam satu tahun. Namun, pemandangan alam yang masih perawan membuat perjalanan ke pulau ini sangat sepadan. Pegunungan berbatu yang indah memukau siapa pun yang pertama kali menginjakkan kaki­nya di pulau ini, seolah sudah melewati ruang dan waktu. Gn. Chu setinggi 430 meter di atas tebing di timur laut Pulau Ulleung adalah kulminasi pemandangan di pulau ini. Gunung dan ombak di laut, matahari terbit dan tenggelam, bintang dan bulan semua tampak menakjubkan. Healing Stay Kosmos terletak di tebing yang menjulang ke arah laut. Hotel yang dirancang oleh arsitek Kim Chan-joong ini dibuka pada tahun 2018. Ada dua sayap: Villa Kosmos terdiri dari enam vila kolam yang berdiri melingkar menyerupai pusaran angin, dan Villa Terre yang terdiri dari lima vila berjajar se­­perti ombak. Majalah desain yang terbit di Inggris Wallpaper* memberikan predikat Hotel Baru Terbaik kepada Healing Stay Kosmos dalam Penghargaan Desain Wallpaper* pada tahun 2019. Gunung Chu terlihat melalui jendela melengkung setinggi 6 meter, di ruang tamu Villa Kosmos.Bangunannya menyerupai angin puyuh yang terdiri dari enam bilah, masing-masing membentuk ruang tamu yang memiliki pemandangan berbeda.© Kim Yong-kwan Enam Pemandangan yang Berbeda Dalam menciptakan karya yang menyatu dengan alam, Kim Chan-joong menggunakan pergerakan matahari dan bulan. Ia mendapatkan data dari badan pengamatan astronomi peme­rintah Korea yang digunakannya untuk memetakan pantulan cahaya matahari dan bulan. Pantulan cahaya matahari dan bulan di tanah berbentuk spiral. Ia juga menggunakan Gn. Chu, batu tempat matahari bersinar tepat pada titik pa­­ling dekatnya di musim panas, pelabuhan dan hutan untuk membuat enam titik utama. Desain Villa Kosmos dengan bilah dinding yang menghadap ke enam arah yang berbeda itu membentuk bangunan melingkar. Jadi, vila ini mengarah ke enam pemandangan yang berbeda. Di lantai satu terdapat ruang bersama, termasuk restoran dan sauna. Naik mele­wati tangga melingkar, tampaklah bahwa setiap bilah din­ding membentuk satu ruang tamu. Setiap pintu ruang tamu ini mengarah ke dinding lengkung, dan jika berjalan menyusuri sepanjang dinding, kita akan sampai ke sebuah jendela. Jendela ini besar, terpasang secara vertikal di ujung ruangan dan menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Busur pandangnya mirip bentuk Gn. Chu. Untuk membuat bangunan ini tampak lebih bernilai seni, Kim menyembunyikan sebagian besar mesin utama di dalam dindingnya sehingga terlihat seolah sebuah ruangan saja. Dari tahap desain, pencahayaan dan pemanasan ruangan, ventilasi dan sistem penyejuk udara (HVAC) serta alat penyebar udara disatukan; suatu pekerjaan yang memerlukan banyak rancangan sebelum realisasinya. Langit-langit dengan banyak lubang menjadi jalan masuk angin dan cahaya, menciptakan ruang estetis seperti tempat persembunyian binatang. Yang paling menakjubkan adalah lengkung tipis yang berfungsi sebagai atap dan dinding setebal 12cm yang membuat kehadiran Kosmos di pulau ini sangat mudah dikenali. Sungguh luar biasa melihat beton bisa dibuat sangat tipis dan dibentuk sedemikian rupa. Keindahan Kosmos berasal dari bahan bangunannya — ultra-high performance concrete (UHPC). Beton siap pakai ini pertama kali digunakan dalam pembangunan vila ini. UHPC sangat kuat, padat dan tahan lama. Bahkan tanpa rangka baja, penyangga fiber fiber pun bisa digunakan dengan kekuatan seperti yang diinginkan. Dengan struktur yang padat dan lentur, bahan ini bisa dibuat sangat tipis. Kim Chan-joong menerapkan rancangan baru ini, yang sampai saat itu masih dianggap sebagai lahan proyek teknik sipil. Villa Kosmos, dalam bentuk angin puting beliung yang terbuat dari enam bilah, memiliki atap dan dinding melengkung yang hanya setebal 12cm. Bahan baru yang disebut “beton dalam kinerja sangat tinggi” (UHPC) memungkinkan membuat garis tipis dan halus.© Kim Yong-kwan Tantangan Penuh Suka Duka Pemakaian UHPC dalam proyek ini adalah tantangan dan ekperimen dalam setiap tahap desain dan konstruksinya. Pemilihan bahan bangunannya dilakukan dengan pertimbangan pembangunan PLACE 1 KEB Hana Bank di Samseong-dong, Seoul, yang dirancang pada waktu relatif sama. Baik PLACE 1 maupun Healing Stay Kosmos diawali dengan kalimat, “Apakah mungkin membuat desain bangunan yang lebih tipis dan menarik?” Metode baru ini akhirnya dipakai setelah dibuat banyak model rancangan dan kalkulasi teknik. PLACE 1 adalah sebuah bangunan renovasi dari bangunan lama yang di dalamnya terdapat banyak bank dan perkantoran. Ada “ruang terbuka” dengan ruang budaya di setiap lantai, yang menjadi tempat berkumpul setelah bank tutup pada pukul empat sore. Ada pula teras di sekeliling eksterior bangunan yang ditutup de­­ngan panel lengkung yang sangat cantik. Setiap panel berupa komponen modular besar selebar empat meter persegi, mengarah satu meter keluar dan menjorok 50 sentimeter ke dalam. Tim perancang berusaha mencari bahan ringan dan lentur yang bisa dilekatkan pada bangunan lama dan akhirnya mereka memakai UHPC. Namun, suka ini hanya sebentar karena setelah itu mereka harus merasakan duka juga. Masalahnya adalah belum pernah ada pemakaian UHPC untuk bentuk lengkung. Jadi, arsiteknya harus memimpin keseluruhan proses, dari membuat cetakan untuk modul sampai melepas dan menyusunnya. Untuk keperluan ini, lima model rancangan dibuat oleh tim teknik, termasuk kontraktor, pembuat rangka baja, bagian desain struktur dan pabrik UHPC. Proses ini memakan waktu enam bulan. Pada saat yang hampir bersamaan, diputuskan memakai UHPC dalam pembangunan Healing Stay Kosmos karena UHPC dianggap mampu membuat bentuk yang tipis dan indah. Penggunaan beton siap pakai UHPC, yang belum pernah dicoba sebelumnya, dikerjakan oleh Lembaga Bangunan dan Teknik Sipil Korea, yang juga memproduksi K-UHPC; Steel Life Co. Ltd., yang membuat 45.000 panel eksterior dengan bentuk amorf dalam pembangunan Dongdaemun Design Plaza; dan kontraktor Kolon Global. Kim Chan-joong memimpin seluruh proses, termasuk penghitungan kekuatan UHPC, pengukuran tekanan cetakan, dan pengkajian proses pengecoran dengan ba­­nyak model rancangan untuk mengembangkan cetakan yang bisa menciptakan desain yang dikehendaki dengan koordinasi dengan tim teknik. Faktor yang menentukan adalah apakah cetakan itu mampu menahan tekanan yang signifikan ketika dilakukan pengecoran, karena kepadatan UHPC menjadikan beton ini se­­perti air. Jika ada masalah, cetakan bisa patah. Untuk membuat arsitektur amorf tiga dimensi, cetakan harus dibuat dalam satu kali pengerjaan. Dan, yang paling penting, UHPC belum pernah dipakai untuk membuat bangunan. Pengecoran berlangsung selama tiga hari dua malam, dan semua orang menahan napas dan berharap proses ini berhasil baik. “Kalau arsitektur melihat hubungan antara bahan bangunan dan metode konstruksi, sudah saatnya rancangan beton juga diubah.” Arsitek Kim Chan-joong dikenal karena eksperimennya dalam penggunaan material baru. System Lab, firma arsitektur yang dipimpinnya, dimasukkan dalam Direktori Arsitek 2016 dari majalah desain UK Wallpaper *.© Kim Jan-di, design press KEB Hana Bank’s PLACE 1, yang terletak di Samseong-dong, Seoul, memiliki julukan “pengisap gurita.”Permukaannya memiliki 178 cakram dengan diameter masing-masing 2 meter yang berotasi perlahan, menonjolkan semangat gedung. Rancangan Dasar Beton Rancangan Kim Chan-joong dan perusahaannya, The System Lab, selalu disertai dengan rincian perencanaan fabrikasi dan konstruksi. Tujuannya adalah untuk mengkaji ulang konstruksi bangunan dan mencari solusi yang optimal dan rasional. Arsitek tidak dapat meng­andalkan pada nilai estetis saja; tapi harus melakukan riset metode konstruksi yang se­suai dengan proyek mereka dan menerapkan teknologi yang tepat. Metode yang disebut “seni industri” oleh Kim Chan-joong melahirkan empati emosional melalui inovasi bahan dan teknologi. Dalam bukunya Concrete and Culture: A Material History, Adrian Forty, seorang profesor emeritus sejarah arsitektur di The Bartlett, University College London, mengatakan bahwa beton bukan hanya sebuah bahan bangun­an melainkan juga suatu proses. Beton adalah bahan universal yang melahirkan gaya internasional dalam arsitektur, dan sekarang kita melihat struktur beton baru berkat metode-metode baru. Mengenai hal ini, Kim Chan-joong, dalam upayanya mencari solusi optimal, berada di garis depan bukan hanya dalam desain arsitektur melainkan juga dalam desain proses konstruksi. “UHPC tidak berat, memakan tempat dan solid seperti beton pada umumnya,” kata Kim. “Kalau arsitektur melihat hubungan antara bahan bangunan dan metode konstruksi, sudah saatnya rancangan beton juga diubah.” Usaha arsitek ini untuk menemukan dan memakai bahan baru membuka cakrawala kita.

Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris

Books & more 2019 SPRING 183

Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris ‘Penari Pengadilan’ oleh Kyung-Sook Shin, diterjemahkan oleh Anton Hur, 336 halaman, 25,95 USD, New York: Pegasus Books [2018] “Penari Pengadilan” adalah novel terbaru karya Shin Kyung-sook yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (ia dikenal terutama oleh pembaca-dalam-bahasa-Inggris dari novelnya “Tolong Jaga Ibu”). Novel ini mengisahkan tentang Yi Jin, seorang penari pengadilan pada akhir abad ke-19 yang mencuri hati seorang diplomat Perancis di Korea, Victor Collin de Plancy. Yi Jin kemudian pergi ke Perancis bersama Victor pada tahun 1891, menjadi perempuan Korea pertama yang mengunjungi Perancis. Novel tersebut, menurut sampulnya, “berdasarkan dari sebuah kisah nyata yang luar biasa”, tetapi yang sesungguhnya luar biasa adalah bagaimana Shin mengangkat kisah tersebut dari menyebut secara singkat seorang penari pengadilan Korea ke dalam konteks pergantian-abad di Perancis. Akhir abad ke-19 merupakan waktu yang penuh gejolak dalam sejarah Korea, sebagai sebuah negara yang baru membuka negaranya dan terjepit di antara kekuatan-kekuatan besar dunia yang berlomba-lomba menjadi penguasa di Asia Timur. Untuk menjaga kedaulatan negara, raja dan terutama ratu mencoba memainkan kekuatan-kekuatan ini untuk saling beradu satu sama lain. Namun, usaha mereka berakhir sia-sia ketika Jepang berhasil menguasai Korea pada tahun 1910, mengawali 35 tahun penjajahan Jepang atas Korea. Novel Shin ini menghidupkan keputusasaan Korea sekaligus memotong optimisme dari Belle Époque Paris. Namun, sejarah di sini tidak hanya menjadi latar dari kisah Jin; Jin digambarkan sebagai seorang dengan peran yang dimainkan dalam sejarah tersebut. Dengan demikian, Shin menceritakan kisah Korea pada waktu itu melalui kisah Jin. Shin menggunakan berbagai gaya teknik penulisan untuk memberikan kesan klasik sekaligus abadi pada ceritanya, seperti secercah kearifan abadi yang ditaburkan melalui suara penulis. Pepatah yang berurusan dengan karakteristik air memiliki sebuah resonansi khusus. Ketika seorang pe­rempuan menyuruh Jin mengambil air dari sebuah sumur, penulis memberi catatan, “Sifat dasar air tidak berubah, yang memberikan air keku­atannya”. Selanjutnya, ketika diplomat Perancis Victor melewati sebuah sungai di dalam istana kerajaan, kita diberitahu, “Air mengalir ketika bebas, dan berkumpul ketika dihentikan”. Kata-kata ini pada awalnya terlihat dangkal, tetapi kata-kata tersebut seperti ramalan bagaimana Jin akan beradaptasi terhadap dunianya yang baru di Perancis. Selalu menjadi pembelajar yang cepat, Jin dapat segera fasih berbicara bahasa Perancis, dan dia tidak ragu untuk membuang pakaian pengadilannya untuk mode pakaian terbaru Perancis. Se­perti air, dia mengadopsi bentuk dari sekelilingnya. Namun, dia tetap menjadi sebuah tontonan bagi orang-orang di sekitarnya. Bahkan bagi orang-orang yang menerimanya masuk ke dalam kehidupan mereka pun masih memperlakukannya sebagai sesuatu hal yang eksotis, seperti satu dari vas-vas celadon yang dikoleksi Victor dan dibawa pulang ke Perancis. Di sisi lain, Hong, satu-satunya orang Korea lain yang ada di Paris pada saat itu, menyalahkan dan mengejeknya karena telah meninggalkan budayanya. Jin pun mendapati dirinya mempertanyakan identitasnya, sesuatu yang tidak pernah menjadi beban pikirannya ketika dia masih tinggal di istana kerajaan di Seoul. Puisi untuk Pengalaman Sensual di Luar Interpretasi ‘Kami, Hari demi Hari’ oleh Jin Eun-young, Diterjemahkan oleh Daniel Parker dan Ji Young-shil, 108 halaman, 16,00 USD, New York: White Pine Press [2018] Mungkin kelihatannya sia-sia, atau bahkan konyol, mencoba untuk menulis ulasan tipikal dari “Kami, Hari demi Hari”, sebuah kumpulan puisi dari Jin Eun-young. Sama seperti seseorang yang mungkin akan tersesat dalam menggambarkan perasaan seseorang ketika melihat indahnya matahari terbenam, maka tampaknya ini juga sebuah tugas tanpa harapan untuk mengatakan sesuatu tentang kumpulan ini hanya dengan menuliskan kata-kata yang masuk akal dan menenangkan dalam susunan teratur. Pengantar dari penerjemah memberikan pembaca beberapa firasat tentang apa yang ditulis di depan, dengan memberi catatan bahwa puisi Jin “selalu penuh tantangan bagi pembaca yang mencari pemahaman menyeluruh”. Lagipula, tujuan puisinya bukan untuk membuat pembaca mudah menangkap dan memahami, tetapi lebih “untuk mempersembahkan suatu pengalaman sensual baru”. Hal ini dapat menjadi suatu hal yang membuat frustasi bagi beberapa orang. Jika Anda pernah berdiri di depan lukisan­nya Jackson Pollock (dan yang saya maksud adalah lukisan yang sebenarnya, bukan hanya sebuah gambar yang bisa dilihat melalui internet) dan Anda membayangkan apa maksudnya semua kehebohan itu, maka kumpul­an puisi ini mungkin bukan untuk Anda. Jika Anda dapat melihat keindahahan dalam keganjilan, maka, begitulah semestinya. Pengantar mencatat bahwa Jin telah mempublikasikan tiga buku filsafat di samping tiga buku puisi, tetapi saya akan memperdebatkan bahwa garis di antara keduanya tidak terlalu jauh – bahwa, sesungguhnya, “Kami, Hari demi Hari” adalah keduanya, yaitu puisi dan filsafat. Apa yang coba Jin sampaikan di sini adalah semangat dari Duchamp ketika dia memutuskan untuk menyambungkan sebuah roda sepeda ke sebuah kursi. Website Membawa Sastra Modern Korea pada Dunia ‘KoreanLit’ (www.koreanlit.com) Dijalankan oleh Layanan Budaya Korea di Massachussetts (Korean Cultural Service of Massachusetts) Beberapa akan mengatakan bahwa me­­nerjemahkan puisi adalah tugas paling sulit yang dapat dihadapi seorang penerjemah. Yang lain akan berdebat bahwa terjemahan puisi sesungguhnya tidak mungkin, bahwa seni mengakar sangat dalam pada bahasa yang menyebabkan segala usaha untuk mengungkapkannya dalam bahasa berbeda dapat dipastikan akan menuju pada kegagalan. Hal ini tidak menghentikan orang-orang di balik website KoreanLit, sebuah proyek di bawah arahan dari Layanan Budaya Korea di Massachusetts, yang berjuang membawa terjemahan dari sastra modern Korea kepada para pembaca penutur-bahasa-Inggris. Dalam satu-satunya esai yang ada di website saat ini, Profesor Yu Jin Ko mencatat bahwa puisi tidak hanya mengenai apa yang hilang dalam terjemahan, tetapi juga mengenai apa yang ditemukan. Yaitu, sementara tentu saja terdapat elemen dari puisi Korea yang tidak dapat direplikasi dalam bahasa Inggris, sebuah terjemahan dapat menemukan dan membuka aspek baru dari sebuah karya. Pandangan yang lebih luas semacam ini adalah satu cara untuk mengatasi kelumpuhan ide bahwa puisi pada kenyataannya tidak mungkin diterjemahkan. Selain beberapa ratus karya puisi, baik untuk orang dewasa maupun untuk anak-anak, website ini juga melihat puisi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan bentuk lain dari seni seperti lukisan atau musik popular. Walaupun karya-karya tersebut relatif sedikit dibandingkan terjemahan puisi murni, diharapkan akan ada lebih banyak lagi usaha seperti ini di masa depan, yang memperluas pemahaman dari peran yang puisi mainkan dalam seni Korea. Juga akan diterima lebih banyak esai tentang puisi dan seni dari terjemahan puisi; esai yang disebutkan di atas oleh Prof. Ko itu cukup menarik dan bermakna.

SUBSCRIPTION

You can check the amount by country and apply for a subscription.

Subscription Request

전체메뉴

전체메뉴 닫기